Mengakhiri tahun 2020, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Keguruan bekerjasama dengan Perpustakaan dan Pusat Studi Literasi mengadakan Seminar Daring Seri 6. Kegiatan yang merupakan bagian dari Guru: the Learning Learners Series ini pada seri ke 6 mengambil tema From Cultural Awaraness to Intercultural Awareness: Revisiting Culture in ELT. Selain dengan dua unit lain di UIN Sunan Ampel Surabaya, kegiatan pada seri 6 ini juga bekerja sama dengan CEDA (Community of English Department Alumni) yang pada kesempatan kali ini salah satu anggotanya menjadi narasumber kegiatan.

                Kegiatan yang dilaksanakan secara daring bertepatan dengan peringatan Hari Ibu 22 Desember 2020 ini dimulai pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh Kepala Perpustakaan. Dalam sambutannya Dr. Irma Soraya, M. Pd. menyampaikan bahwa budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran bahasa terutama bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Hal ini karena “budaya membentuk bahasa demikian juga bahasa membentuk budaya,” ungkapnya. Sehingga kemampuan guru untuk dapat mengasah kesadaran siswa akan budaya (cultural awareness) dan keragaman kebudayaan (intercultural awareness) sangat diperlukan.

                Dalam seri ke-6 ini tampil sebagai narasumber adalah Bapak As’adi, M. Appl. Ling. dan Bapak Akhyat Hilmy, M. Ed yang kedua-duanya merupakan alumni dari perguruan tinggi di Australia dan memiliki pengalaman langsung berkenaan dengan cultural and intercultural awareness dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Dalam paparannya tentang Sociocultural Issues in Learning English: How do We Address the Differences within Classroom? Bapak As’adi banyak mengungkap tentang pentingnya bagi guru untuk mengakomodasi perbedaan budaya dalam pembelajaran bahasa Inggris. Mengacu pada beberapa hasil penelitian, beliau menyampaikan bahwa keragaman budaya dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa. Dengan berada dalam kelas yang sama bersama teman yang memiliki latar budaya yang berbeda dapat membuat siswa lebih inovatif dan lebih dapat melihat informasi atau isu dari beberapa perspektif yang berbeda.

Akan tetapi, masih menurut As’adi, setiap unsur budaya yang diintegrasikan dalam proses pembelajaran perlu untuk diramu sedemikian rupa agar mendapatkan hasil maksimal. Termasuk dalam beberapa cara yang dapat ditempuh, lanjutnya, adalah dengan mengenali latar belakang siswa, memilih materi yang sesuai dan tidak sensitif untuk siswa dari latar belakang budaya tertentu, menghargai perbedaan yang ada, melibatkan orang tua dan komite sekolah untuk pemilihan materi hingga, pada level yang lebih luas ditingkat sekolah, merekrut guru dari latar belakang budaya yang berbeda. Tentu saja semua itu tetap perlu disesuaikan dengan latar belakang siswa agar jangan sampai ada resistansi ketika culturally critical pedagogy ditetapkan. Setiap langkah perlu dilakukan dengan penuh kehati-hatian jangan sampai muncul resistansi terhadap metode yang digunakan sebagaimana yang terekam pada hasil-hasil penelitian di beberapa negara Asia seperti Korea, Pakistan termasuk di Indonesia. Oleh karenanya guru harus benar-benar memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan kesesuaian metode, materi dan kegiatan pembelajaran yang digunakan.

                Pada sesi kedua Bapak Akhyat Hilmy, M. Ed yang merupakan alumni dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan awardee dari Fullbright and LPDP menyampaikan tentang Cultural Awareness in ELT: Implication for Cultural Identification and Well-being. Menurut Hilmy cultural awareness berkaitan dengan kemampuan kita untuk mengenali budaya kita sendiri dan pada saat yang sama menghargai adanya ragam dan kompleksitas budaya yang ada di sekitar kita. Dengan cultural awareness kita menjadi individu yang dapat merasa nyaman berada pada lingkungan budaya baru, lebih menghargai dan mencari keragaman daripada mencari persamaan dan memperdebatkan perbedaan. Cultural awareness ini dapat diasah dan distimulasi dengan menggunakan DIE yang adalah Description, Interpretation and Evaluation. Ketika deskripsi budaya yang dialamai dapat diinterpretasikan dan dievaluasi dengan baik maka siswa akan dapat meningkatkan well-being mereka. Siswa memiliki mood yang lebih positif, kepuasan dan penerimaan diri yang lebih baik dan rasa bahagia yang meningkat. Ini tentu akan berpengaruh bukan hanya pada peningkatan siswa sebagai individu namun juga peningkatan prestasi belajar karena siswa dapat lebih bahagia dalam kegiatan pembelajarannya.                 Kegiatan seminar dan pelatihan yang merupakan salah satu bentuk program Pengabdian kepada Masyarakat ini diikuti secara luas oleh mahasiswa, guru dan dosen maupun pemerhati pendidikan. Dipandu oleh moderator Hernik Farisia, M. Pd. I, peserta nampak cukup tertarik dan antusias. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya pertanyaan yang diajukan termasuk misalnya Bapak Mochamad Sabilur Rosyad yang menanyakan tentang cara meningkatkan motivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris terutama terkait dengan materi budaya, Ibu Ria tentang potensi menggunakan DIE di pembelajaran bahasa Inggris di konteks Indonesia and Ibu Ike terkait pengalaman kedua narasumber

By admin