Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan bangku sekolah nomer wahid dalam membekali anak mengenai pelajaran dasar kehidupan. Seperti tutur John Locke dalam Tabularasa, “Sangat penting menanam nilai-nilai baik agar moral agama dan kecerdasan anak dapat memberi sumbangsih positif bagi kemajuan negara di masa depan,” tuturnya.

Read more...

ali maksumDr. Ali Maksum

Dosen FITK UIN Sunan Ampel Surabaya

Sejatinya, pelanggaran moral yang terjadi di masyarakat tidak hanya dilakukan oleh pelajar saja. Hampir setiap hari kita menyaksikan penyimpangan standar moral, seperti tindak kekerasan, pemerasan, pelecehan seksual, kecurangan dalam ujian, penggunaan ijazah palsu, perkelaian massal, geng motor, perusakan tempat ibadah, praktek suap, korupsi, aborsi, pembunuhan sadis, dan lain-lain. Pelakunya pun berasal dari berbagai kalangan mulai pelajar, mahasiswa, politisi, birokrat, agamawan, pejabat publik bahkan penegak hukum. Karena itu, ada pesimisme di kalangan masyarakat terhadap pembinaan nilai-nilai moral. Pesimisme menggeluti pikiran masyarakat karena banyak pihak yang diharapkan berperilaku baik, malah menyimpang dari standar nilai moral yang berlaku. Perilaku moral terjun bebas menurun mendekati titik nadir.

Mengutip Lorens Bagus dalam buku Kamus Filsafat (2000: 672), moral bersangkut paut dengan perilaku itu baik atau buruk, etis atau tidak etis, dan tepat atau tidak tepat dalam hubungannnya dengan orang lain. Dalam beriteraksi dengan orang lain setiap individu dituntut mengatur perilakunya sedapat mungkin agar tidak bertentangan dengan standar moral yang berlaku.

Dalam sosiologi, pendidikan bukan sekedar berfungsi sebagai alih pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga memegang fungsi social screening and selection. Artinya, proses pendidikan itu akan menyaring dan menyeleksi anak didik untuk bisa mengemban beban sosial. Screening (penyaringan) ini tentu berdasar dari kemampuan anak atas penguasaan ilmu pengetahuan, kompetensi, termasuk di dalamnya adalah moral. Ini berarti makin tinggi jenjang pendidikan seseorang, ia akan terseleksi dan tersaring pada kasta sosial yang tinggi juga, sebab beban sosialnya juga tinggi.

Dalam konteks social screening, guru dituntut untuk melakukan penilaian moral terhadap siswanya. Selama ini sekolah hanya melakukan penilaian berdasarkan kemampuan kognitif-akademik saja, sementara aspek moral diabaikan. Hanya nilai akademik yang dipandang objektif dan menjadi dasar kenaikan kelas atau lulus dari tingkat jenjang pendidikan tertentu. Sementara faktor moral dianggap sebagai subjektif dan karena itu tidak menjadi pertimbangan menaikkan atau meluluskan siswanya.

Dalam Kurikulum 2013 yang diutamakan adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Evaluasinya pun diharapkan juga komprehensif, tidak parsial. Persoalan moral terkait dengan kompetensi sikap (attitude). Selama ini sekolah lebih sibuk mengembangkan kompetensi pengetahuan (knowledge) saja, sementara dua dimensi lainnya cenderung kurang dikembangkan secara maksimal. Hal ini bisa dimaklumi karena yang menjadi patokan kelulusan mengacu pada hasil Ujian Nasional (UN). Dan, UN hanya mengukur kompetensi pengetahuan saja.

Melihat semakin merosotnya perilaku moral pelajar kita, kini, saatnya pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menaruh perhatian lebih dalam penanaman nilai-nilai moral. Pendidikan karakter yang belakangan ini digaungkan oleh Kemendikbud bisa menjadi salah satu solusi kongkrit untuk menanamkan moral kepada siswa. Pendidikan karakter diharapkan tidak berhenti sebatas pengetahuan saja, tetapi dapat diimplementasikan dalam perilaku keseharian. Sehingga anak-anak lebih menghayati nilai-nilai moral dan dapat mempraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Merosotnya kualitas moral pelajar kita sebenarnya terkait juga dengan krisis yang dialami oleh keluarga. Banyak keluarga mengalami disorientasi dan disharmoni bukan hanya karena masalah ekonomi, tetapi juga karena serbuan globalisasi nilai-nilai dan gaya hidup. Gaya hidup hedonistik dan materialistik sebagaimana banyak dipertontonkan melalui telenovela dan sinetron pada berbagai saluran televisi Indonesia, hanya mempercepat disorientasi dan dislokasi keluarga dan rumah tangga. Akibatnya, anak-anak menjadi korban dari gaya hidup tersebut.

Sekolah menjadi seolah tidak berdaya menghadapi realitas ini. Dan sekolah selalu menjadi kambing hitam dari merosotnya watak dan karakter bangsa. Padahal, sekolah sendiri menghadapi berbagai masalah berat menyangkut kurikulum yang overload, fasilitas yang tidak memadai, kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan yang rendah. Menghadapi beragam masalah ini sekolah kehilangan relevansinya dengan pembentukan karakter. Sekolah, sebagai konsekuensinya, lebih merupakan sekadar tempat bagi transfer of knowledge daripada character building, tempat pengajaran daripada pendidikan.

Karena itu, guru dituntut mempunyai catatan moral siswanya. Wujudnya bisa berbentuk rekam jejak, rapor, atau lainnya. Fungsi rekam jejak ini untuk mencatat perilaku moral siswanya. Catatan penyimpangan moral siswanya ditandatangani sekolah dan orang tua wali, dengan sepengetahuan anak. Nantinya, rekam jejak moral bisa menjadi pertimbangan kelulusan siswa dan juga referensi bagi pengguna lulusan dari satuan pendidikan.

Sekolah harus berlaku jujur dan tidak melakukan manipulasi fakta atas nilai-nilai moral anak didik. Betapa tidak menyakitkan bagi seorang guru melihat anak didik yang nyata-nyata rusak moral dengan melakukan hal-hal yang menerobos nilai, tapi bisa lulus, punya ijazah, sama dengan mereka yang nawaitu sekolahnya bagus dan niat sungguh-sungguh. Ini mungkin akan menjadi penilaian yang berkeadilan dan proporsional. Bagi siswa yang nilai moralnya tidak bagus bisa memilih pekerjaan di bidang-bidang kerja yang tidak terlalu mikir catatan moral calon tenaga kerjanya. Tapi bagi jabatan publik, dunia pendidikan atau hal-hal yang berhubungan dengan manusia, saya rasa catatan moral itu penting diketahui sebagai pertimbangan.

Penulis tidak bisa membayangkan bila ada siswi yang pernah aborsi terus masuk fakultas kedokteran dan menjadi dokter atau masuk fakultas keguruan dan menjadi guru? Bisa kebayangkah anak yang terlibat curanmor lalu besarnya menjadi anggota legislatif atau hakim? Allahu A'lam.

 

* Tulisan di atas juga diterbitkan di http://www.uinsby.ac.id/

Dra. Husniyatus Salamah Z, M.Ag

Abstrak

Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu berag
am dan luas. Keragaman ini diakui atau tidak akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kekerasan, perusakan lingkungan, separatisme, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut. Berkaitan dengan hal ini, pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dll. Karena itulah yang terpenting dalam pendidikan multikultural adalah seorang guru atau dosen tidak hanya dituntut untuk menguasai dan mampu secara profesional mengajarkan mata pelajaran atau mata kuliah yang diajarkan. Lebih dari itu, seorang pendidik juga harus mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanisme, dan pluralisme atau menanamkan nilai-nilai keberagamaan yang inklusif pada siswa. Pada gilirannya, out-put yang dihasilkan dari sekolah/universitas tidak hanya cakap sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keberagamaan dalam memahami dan menghargai keberadaan para pemeluk agama dan kepercayaan lain.


Kata Kunci: Pendidikan multikultural, keberagamaan inklusif, dan materi PAI

PENDAHULUAN

Praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama, dari fundamentalisme, radikalisme, hingga terorisme, akhir-akhir ini semakin marak di tanah air. Kesatuan dan persatuan bangsa saat ini sedang diuji eksistensinya. Berbagai indikator yang memperlihatkan adanya tanda-tanda perpecahan bangsa, dengan transparan mudah kita baca. Konflik di Ambon, Papua, maupun Poso, seperti api dalam sekam, sewaktu-waktu bisa meledak, walaupun berkali-kali bisa diredam. Peristiwa tersebut, bukan saja telah banyak merenggut korban jiwa, tetapi juga telah menghancurkan ratusan tempat ibadah (baik masjid maupun gereja).

Bila kita amati, agama seharusnya dapat menjadi pendorong bagi ummat manusia untuk selalu menegakkan perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh ummat di bumi ini. Namun, realitanya agama justru menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasanan dan kehancuran ummat manusia.  Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya preventif agar masalah pertentangan agama tidak akan terulang lagi di masa yang akan datang. Misalnya, dengan mengintensifkan forum-forum dialog antar ummat beragama dan aliran kepercayaan (dialog antar iman), membangun pemahaman keagamaan yang lebih pluralis dan inklusif, dan memberikan pendidikan tentang pluralisme dan toleransi beragama melalui sekolah (lembaga pendidikan).

Pada sisi yang lain, pendidikan agama yang diberikan di sekolah-sekolah pada umumnya juga tidak menghidupkan pendidikan multikultural yang baik, bahkan cenderung berlawanan. Akibatnya konflik sosial sering kali diperkeras oleh adanya legitimasi keagamaan yang diajarkan dalam pendidikan agama di sekolah-sekolah daerah yang rawan konflik. Hal ini membuat konflik mempunyai akar dalam keyakinan keagamaan yang fundamental sehingga konflik sosial kekerasan semakin sulit diatasi, karena dipahami sebagai bagian dari panggilan agamanya. 

Realita tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama baik di sekolah umum maupun sekolah agama lebih bercorak eksklusive, yaitu agama diajarkan dengan cara menafikan hak hidup agama lain, seakan-akan hanya agamanya sendiri yang benar dan mempunyai hak hidup, sementara agama yang lain salah, tersesat dan terancam hak hidupnya, baik di kalangan mayoritas maupun minoritas. Seharusnya pendidikan agama dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangkan moralitas universal yang ada dalam agama-agama sekaligus mengembangkan teologi inklusif dan pluralis. Berkaitan dengan hal ini, maka penting bagi institusi pendidikan dalam masyarakat yang multikultur untuk mengajarkan perdamaian dan resolusi konflik seperti yang ada dalam pendidikan multikultural.

MEMAHAMI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Akar pendidikan multikultural, berasal dari perhatian seorang pakar pendidikan Amerika Serikat Prudence Crandall (18-3-1890) yang secara intensif menyebarkan pandangan tentang arti penting latar belakang peserta didik, baik ditinjau dari aspek budaya, etnis, dan agamanya. Pendidikan yang memperhatikan secara sungguh-sungguh latar belakang peserta didik merupakan cikal bakal bagi munculnya pendidikan multikultural. 

Secara etimologi istilah pendidikan multikultural terdiri dari dua term, yaitu pendidikan dan  multikultural. Pendidikan berarti proses pengembangan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan melalui pengajaran, pelatihan, proses dan cara mendidik. Dan multikultural diartikan sebagai keragaman kebudayaan, aneka kesopanan.

Sedangkan secara terminologi, pendidikan multikultural berarti proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku dan aliran (agama). Pengertian seperti ini mempunyai implikasi yang sangat luas dalam pendidikan, karena pendidikan dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses sepanjang hayat. Dengan demikian, pendidikan multikultural menghendaki penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap harkat dan martabat manusia. 

Konsep pendidikan multikultural dalam perjalanannya menyebar luas ke kawasan di luar AS khususnya di negara-negara yang memiliki keragaman etnis, rasionalisme, agama dan budaya seperti di Indonesia. Sedangkan wacana tentang pendidikan multikultural,  secara sederhana dapat didefenisikan sebagai "pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan". 

Hal ini sejalan dengan pendapat Paulo Freire, pendidikan bukan merupakan "menara gading" yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan menurutnya, harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialaminya.  Pendidikan multikultural (multicultural education) merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dan secara luas pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnik, ras, budaya, strata sosial dan agama.

Selanjutnya James Bank,  -salah seorang pioner dari pendidikan multikultural dan telah membumikan konsep pendidikan multikultural menjadi ide persamaan pendidikan- mengatakan bahwa substansi pendidikan multikultural adalah pendidikan untuk kebebasan (as education for freedom) sekaligus sebagai penyebarluasan gerakan inklusif dalam rangka mempererat hubungan antar sesama (as inclusive and cementing movement).

Mengenai fokus pendidikan multikultural, Tilaar mengungkapkan bahwa dalam program pendidikan multikultural, fokus tidak lagi diarahkan semata-mata kepada kelompok rasial, agama dan kultural domain atau mainstream. Fokus seperti ini pernah menjadi tekanan pada pendidikan interkultural yang menekankan peningkatan pemahaman dan toleransi individu-individu yang berasal dari kelompok minoritas terhadap budaya mainstream yang dominan, yang pada akhirnya menyebabkan orang-orang dari kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat mainstream. Pendidikan multikultural sebenarnya merupakan sikap "peduli" dan mau mengerti (difference), atau "politics of recognition" politik pengakuan terhadap orang-orang dari kelompok minoritas.

Melihat dan memperhatikan pengertian pendidikan multikultural di atas, dapat diambil beberapa pemahaman, antara lain; pertama, pendidikan multikultural merupakan sebuah proses pengembangan yang berusaha meningkatkan sesuatu yang sejak awal atau sebelumnya sudah ada. Karena itu, pendidikan multikultural tidak mengenal batasan atau sekat-sekat sempit yang sering menjadi tembok tebal bagi interaksi sesama manusia;

Kedua, pendidikan multikultural mengembangkan seluruh potensi manusia, meliputi, potensi intelektual, sosial, moral, religius, ekonomi, potensi kesopanan dan budaya. Sebagai langkah awalnya adalah ketaatan terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan, penghormatan terhadap harkat dan martabat seseorang, penghargaan terhadap orang-orang yang berbeda dalam hal tingkatan ekonomi, aspirasi politik, agama, atau tradisi budaya.

Ketiga, pendidikan yang menghargai pluralitas dan heterogenitas. Pluralitas dan heterogenitas adalah sebuah keniscayaan ketika berada pada masyarakat sekarang ini. Dalam hal ini, pluralitas bukan hanya dipahami keragaman etnis dan suku, akan tetapi juga dipahami sebagai keragaman pemikiran, keragaman paradigma, keragaman paham, keragaman ekonomi, politik dan sebagainya. Sehingga tidak memberi kesempatan bagi masing-masing kelompok untuk mengklaim bahwa kelompoknya menjadi panutan bagi pihak lain. Dengan demikian, upaya pemaksaan tersebut tidak sejalan dengan nafas dan nilai pendidikan multikultural.

Keempat, pendidikan yang menghargai dan menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis, suku dan agama. Penghormatan dan penghargaan seperti ini merupakan sikap yang sangat urgen untuk disosialisasikan. Sebab dengan kemajuan teknologi telekomunikasi, informasi dan transportasi telah melampaui batas-batas negara, sehingga tidak mungkin sebuah negara terisolasi dari pergaulan dunia. Dengan demikian, privilage dan privasi yang hanya memperhatikan kelompok tertentu menjadi tidak relevan. Bahkan bisa dikatakan “pembusukan manusia” oleh sebuah kelompok. 

Dalam konteks itu, pendidikan multikultural melihat masyarakat secara lebih luas. Berdasarkan pandangan dasar bahwa sikap "indiference" dan "Non-recognition" tidak hanya berakar dari ketimpangan struktur rasial, tetapi paradigma pendidikan multikultural mencakup subyek-subyek mengenai ketidakadilan, kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam berbagai bidang: sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Paradigma seperti ini akan mendorong tumbuhnya kajian-kajian tentang 'ethnic studies" untuk kemudian menemukan tempatnya dalam kurikulum pendidikan sejak dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tujuan inti dari pembahasan tentang subyek ini adalah untuk mencapai pemberdayaan (empowerment) bagi kelompok-kelompok minoritas dan disadventaged.

Secara garis besar, paradigma pendidikan multikultural diharapkan dapat menghapus streotipe, sikap dan pandangan egoistik, individualistik dan eksklusif di kalangan anak didik. Sebaliknya, dia senantiasa dikondisikan ke arah tumbuhnya pandangan komprehensif terhadap sesama, yaitu sebuah pandangan yang mengakui bahwa keberadaan dirinya tidak bisa dipisahkan atau terintegrasi dengan lingkungan sekeliling yang realitasnya terdiri atas pluralitas etnis, rasionalisme, agama, budaya, dan kebutuhan. Oleh karena itu, cukup proporsional jika proses pendidikan multikultural diharapkan membantu para siswa dalam mengembangkan proses identifikasi (pengenalan) anak didik terhadap budaya, suku bangsa, dan masyarakat global. Pengenalan kebudayaan maksudnya anak dikenalkan dengan berbagai jenis tempat ibadah, lembaga kemasyarakatan dan sekolah. pengenalan suku bangsa artinya anak dilatih untuk bisa hidup sesuai dengan kemampuannya dan berperan positif sebagai salah seorang warga dari masyarakatnya. Sementara lewat pengenalan secara global diharapkan siswa memiliki sebuah pemahaman tentang bagaimana mereka bisa mengambil peran dalam percaturan kehidupan global yang dia hadapi.

URGENSI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA

Sebagaimana diketahui bahwa model pendidikan di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan agama dan pendidikan nasional. Pendidikan yang ada sekarang ini cenderung menggunakan metode kajian yang bersifat dikotomis. Maksudnya, pendidikan agama berbeda dengan pendidikan nasional. Pendidikan agama lebih menekankan pada disiplin ilmu yang bersifat normatif, establish, dan jauh dari realitas kehidupan.

Sedangkan pendidikan nasional lebih cenderung pada akal atau inteligensi. Oleh karena itu, sangat sulit menemukan sebuah konsep pendidikan yang benar-benar komprehensif dan integral.

Salah satu faktor munculnya permasalahan itu adalah adanya pandangan yang berbeda tentang hakikat manusia. Kuatnya perbedaan pandangan terhadap manusia menyebabkan timbulnya perbedaan yang makin tajam dalam dataran teoritis, dan lebih tajam lagi pada taraf operasional. Fenomena tersebut, menjadi semakin nyata ketika para pengelola lembaga pendidikan memiliki sikap fanatisme yang sangat kuat, dan mereka beranggapan bahwa paradigmanya yang paling benar dan pihak yang lain salah, sehingga harus diluruskan.

Manusia dan pendidikan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Manusia sepanjang hidupnya melaksanakan pendidikan. Bila pendidikan bertujuan membina manusia yang utuh dalam semua segi kemanusiaannya, maka semua segi kehidupan manusia harus bersinggungan dengan dimensi spiritual (teologis), moralitas, sosialitas, emosionalitas, rasionalitas (intelektualitas), estetis dan fisik. Namun realitanya, proses pendidikan kita masih banyak menekannkan pada segi kognitf saja, apalagi hanya nilai-nilai ujian yang menjadi standar kelulusan, sehingga peserta didik tidak berkembang menjadi manusia yang utuh. Akibat selanjutnya akan terjadi beragam tindakan yang tidak baik seperti yang akhir-akhir ini terjadi: tawuran, perang, penghilangan etnis, ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, korupsi, ketidakjujuran, dan sebagainya.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka keberadaan pendidikan multikultural sebagai strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran, dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada siswa sangat diperlukan, dengan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Pendidikan multikultural secara inheren sudah ada sejak bangsa Indonesia ada. Falsafah bangsa Indonesia adalah suka gotong royong, membantu, menghargai antara suku dan lainnya.
  2. Pendidikan multikultural memberikan secercah harapan dalam mengatasi berbagai gejolak masyarakat yang terjadi akhir-akhir ini. Keberhasilan pendidikan dengan mengabaikan ideologi, nilai-nilai, budaya, kepercayaan dan agama yang dianut masing-masing suku dan etnis harus dibayar mahal dengan terjadinya berbagai gejolak dan pertentangan antar etnik dan suku. Salah satu penyebab munculnya gejolak seperti ini, adalah model pendidikan yang dikembangkan selama ini lebih mengarah pada pendidikan kognitif intelektual dan keahlian psikomotorik yang bersifat teknis semata. Padahal kedua ranah pendidikan ini lebih mengarah kepada keahlian yang lepas dari ideologi dan nilai-nilai yang ada dalam tradisi masyarakat, sehingga terkesan monolitik berupa nilai-nilai ilmiah akademis dan teknis empiris. Sementara menurut pendidikan multikultural, adalah pendidikan yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keyakinan, heterogenitas, pluralitas agama apapun aspeknya dalam masyarakat.
  3. Pendidikan multikultural menentang pendidikan yang berorientasi bisnis. Pendidikan yang diharapkan oleh bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah pendidikan ketrampilan semata, melainkan pendidikan yang harus mengakomodir semua jenis kecerdasan, yang sering disebut kecerdasan ganda (multiple intelligence). Menurut Howard Gardner, kecerdasan ganda yang perlu dikembangkan secara seimbang adalah kecerdasan verbal linguistic, kecerdasan logika matematika, kecerdasan yang terkait dengan spasialRuang, kecerdasan fisik kinestetik, kecerdasan dalam bidang musik, kecerdasan yang terkait dengan lingkungan alam, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Jadi, jika ketrampilan saja yang dikembangkan maka pendidikan itu jelas berorientasi bisnis.
  4. Pendidikan multikultural sebagai resistensi fanatisme yang mengarah pada jenis kekerasan. Kekerasan muncul ketika saluran perdamaian sudah tidak ada lagi.

Dengan demikian, pendidikan multikultural sekaligus untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis, dan pluralis di lingkungan mereka.

BAGAIMANA MEMBANGUN KEBERAGAMAAN INKLUSIF DI SEKOLAH?

Di era multikulturalisme dan pluralisme, pendidikan agama sedang mendapat tantangan karena ketidakmampuannya dalam membebaskan peserta didik keluar dari eksklusifitas beragama. Wacana kafir-iman, muslim non-muslim, surga-neraka seringkali menjadi bahan pelajaran di kelas selalu diindoktrinasi.

Pelajaran teologi diajarkan sekedar untuk memperkuat keimanan dan pencapaiannya menuju surga tanpa dibarengi dengan kesadaran berdialog dengan agama-agama lain. Kondisi inilah yang menjadikan pendidikan agama sangat eksklusif dan tidak toleran. Padahal di era pluralisme dewasa ini, pendidikan agama mesti melakukan reorientasi filosofis paradigmatik tentang bagaimana membangun pemahaman keberagamaan peserta didik yang lebih inklusif-pluralis, multikultural, humanis, dialogis-persuasif, kontestual, substantif dan aktif sosial.

Paradigma keberagamaan yang inklusif-pluralis berarti menerima pandapat dan pemahaman lain yang memiliki basis ketuhanan dan kemanusiaan. Pemahaman keberagamaan yang multikultural berarti menerima adanya keragaman ekspresi budaya yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan keindahan. Pemahaman yang humanis adalah mengakui pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dalam beragama, artinya seorang yang beragama harus dapat mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan; menghormati hak asasi orang lain, peduli terhadap orang lain dan berusaha membangun perdamaian bagi seluruih umat manusia.

Pradigma dialogis-persuasif lebih mengedepankan dialog dan cara-cara damai dalam melihat perselisihan dan perbedaan pemahaman keagmaan dari pada melakukan tindakan-tondakan fisik seperti teror, perang, dan bentuk kekerasan lainnya. Paradigma kontekstual berarti menerapkan cara berfikir kritis dalam memahami teks-teks keagamaan. Paradigma keagamaan yang substantif berarti lebih mementingkan dan menerapkan nilai-nialai agama dari pada hanya melihat dan mengagungkan simbol-simbol keagamaan. Sedangkan peradigma pemahaman keagmaan aktif sosial berati agama tidak hanya menjadi alat pemenuhan kebutuhan rohani secara pribadi saja. Akan tetapi yang terpenting adalah membangun kebersamaan dan solidaritas bagi seluruh manusia melalui aksi-aksi sosial yang nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan umat manusia.

Dengan membangun paradigma pemahaman keberagmaan yang lebih humanis, pluralis, dan kontekstual diharapkan nilai-niali universal yang ada dalam agama sepeti kebenaran, keadilan, kemanusiaaan, perdamaian dan kesejahteraan umat manusia dapat ditegakkan. Lebih khusus lagi, agar kerukunan dan kedamaian antar umat bergama dapat terbangun.

Contoh kasus yang berakaitan dengan problematika keberagamaan di sekolah dan bagaimana peran guru/dosen dalam membangun pemahaman keberagamaan yang inklusisf pada siswa:

Beberapa bulan setelah kasus pemboman dua buah kafe di kota A, seorang guru, setelah membaca berita di media massa, bercerita tentang kasus tersebut di depan murid-muridnya. Dia bercerita bahwa apa yang telah dilakukan oleh B dan kawan-kawan adalah bagian dari jihad. Dia menambahkan bahwa apa yang dilakukan B cs, menurut agama, tidak berdosa telah melakukan tindakan tersebut karena para korban adalah orang kafir yang beragama C yang sedang senang-senang di sebuah kafe.

Penjelasan guru atau dosen seperti ini, tentunya sangat menyesatkan bagi peserta didiknya. Guru dalam kisah tersebut, telah menumbuhkan sikap permusuhan terhadap pemeluk agama C, dan telah melegalkan tindakan kekerasan terhadap oarang lain (umat beragama lain). Dalam hal ini, seharusnya guru menjelaskan bahwa tindakan B dan kawan-kawan tidak bisa dibenarkan baik secara hukum maupun menurut agama. Dia juga harus menjelaskan bahwa semua agama atau kepercayaan  yang ada di bumi ini, tidak pernah memerintahkan kepada pemeluknya untuk melakukan kekerasan terhdap siapa saja, termasuk pada pemeluk agama lain.

Mencermati gambaran peristiwa tersebut di atas, guru dan sekolah memegang peranan penting dalam mengimplementasikan nilai-nilai kebergamaan yang inkluisf di sekolah. apabila guru mempunyai paradigma pemahaman keberagamaan yang inkluisf, maka dia juga akan mampu mengajarkan dan mengimplementasikan niali-nilai keberagamaan tersebut pada siswa di sekolah.

Peran Guru dan Sekolah dalam Membangun Keberagamaan Inklusif di Sekolah

Peran guru dalam hal ini meliputi; pertama, seorang guru/dosen harus mampu bersikap demokratis, baik dalam sikap maupun perkataannya tidak diskriminatif. Kedua, guru/dosen seharusnya mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kejadian-kejadian tertentu yang ada hubungannya dengan agama. Misalnya, ketika terjadi bom Bali (2003), maka seorang guru yang berwawasan multikultural harus mampu menjelaskan keprihatinannya terhadap peristiwa tersebut. Ketiga, guru/dosen seharusnya menjelaskan bahwa inti dari ajaran agama adalah menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh ummat manusia, maka pemboman, invasi militer, dan segala bentuk kekerasan adalah sesuatu yang dilarang oleh agama. Keempat, guru/dosen mampu memberikan pemahaman tentang pentingnya dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan keragaman budaya, etnis, dan agama (aliran), misalnya, kasus penyerbuan dan pengusiran Jamaah Ahmadiyah di NTB tidak perlu terjadi, jika wacana inklusivisme beragama ditanamkan pada semua elemen masyarakat termasuk peserta didik.

Selain guru, sekolah juga memegang peranan penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang pluralis dan toleran. Langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain; pertama, untuk membangun rasa saling pengertian sejak didi antara siswa-siswa yang mempunyai keyakinan berbeda maka sekolah harus berperan aktif menggalakkan dialog antariman dengan bimbingan guru-guru dalam sekolah tersebut. Dialog antariman semacam ini merupakan salah satu upaya yang efektif agar siswa terbiasa melakukan dialog dengan penganut agama yang berbeda; kedua, hal yang paling penting dalam penerapan pendidikan multikultural yaitu kurikulum dan buku-buku pelajaran yang dipakai, dan diterapkan di sekolah.

Pengembangan Materi Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural

Dalam rangka membangun keberagamaan inklusif di sekolah ada beberapa materi pendidikan agama Islam yang bisa dikembangkan dengan nuansa multikultural, antara lain:

Pertama, materi al-Qur’an, dalam menentukan ayat-ayat pilihan, selain ayat-ayat tentang keimanan juga perlu ditambah dengan ayat-ayat yang dapat memberikan pemahaman dan penanaman sikap ketika berinteraksi dengan orang yang berlainan agama, sehingga sedini mungkin sudah tertanam sikap toleran, inklusif pada peserta didik, yaitu a) materi yang berhubungan dengan pengakuan al-Qur’an akan adanya pluralitas dan berlomba dalam kebaikan (Al-Baqarah/2: 148); b) Materi yang berhubungan dengan pengakuan koeksistensi damai dalam hubungan antar umat beragama (al-Mumtahanah/60: 8-9); c) materi yang berhubungan dengan keadilan dan persamaan (an-Nisa’/4: 135)

Kedua, materi fiqih, bisa diperluas dengan kajian fikih siyasah (pemerintahan). Dari fikih siyasah inilah terkandung konsep-konsep kebangsaan yang telah dicontohkan pada zaman, Nabi, Sahabat ataupun khalifah-khalifah sesudahnya. Pada zaman Nabi misalnya, bagaimana Nabi Muhammad mengelola dan memimpin masyarakat Madinah yang multi-etnis, multi-kultur, dan multi-agama. Keadaan masyarakat Madinah pada masa itu tidak jauh beda dengan masyarakat Indonesia, yang juga multi-etnis, multi-kultur, dan multi-agama.

Ketiga, materi akhlak yang menfokuskan kajiannya pada perilaku baik-buruk terhadap Allah, Rasul, sesama manusia, diri sendiri, serta lingkungan, penting artinya bagi peletakan dasar-dasar kebangsaan. Sebab, kelanggengan suatu bangsa tergantung pada Akhlak, bila suatu bangsa meremehkan akhlak, punahlah bangsa itu. Dalam Al-Qur’an telah diceritakan tentang kehancuran kaum Luth, disebabkan runtuhnya sendi-sendi moral. Agar Pendidikan Agama bernuansa multikultural ini bisa efektif, peran guru agama Islam memang sangat menentukan. Selain selalu mengembangkan metode mengajar yang variatif, tidak monoton. Dan yang lebih penting, guru agama Islam juga perlu memberi keteladanan.

Keempat, materi SKI, materi yang bersumber pada fakta dan realitas historis dapat dicontohkan praktik-praktik interaksi sosial yang diterapkan Nabi Muhammad ketika membangun masyarakat Madinah. Dari sisi historis proses pembangunan Madinah yang dilakukan Nabi Muhammad ditemukan fakta tentang pengakuan dan penghargaan atas nilai pluralisme dan toleranasi.

Agar pemahaman pluralisme dan toleransi dapat tertanam dengan baik pada peserta didik, maka perlu ditambahkan uraian tentang proses pembangunan masyarakat Madinah dalam materi “Keadaan Masyarakat Madinah Sesudah Hijrah”, dalam hal ini dapat ditelusuri dari Piagam Madinah. Sebagai salah satu produk sejarah umat Islam, piagam Madinah merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad berhasil memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan, penegakan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. Beberapa ahli tentang sejarah Islam menyebut Piagam Madinah  sebagai loncatan sejarah yang luar biasa.

Bila kita cermati, bunyi naskah konstitusi itu sangat menarik. Ia memuat pokok-pokok pikiran yang dari sudut tinjauan modern pun mengagumkan. Dalam konstitusi itulah pertama kalinya dirumuskan ide-ide yang kini menjadi pandangan hidup modern di dunia, seperti kebebasan beragama, hak setiap kelompok untuk mengatur hidup sesuai dengan keyakinannya, kemerdekaan hubungan ekonomi antar golongan dan lain-lain.

Menurut Nurcholish Madjid, toleransi merupakan persoalan ajaran dan kewajiban melaksanakan ajaran itu. Jika toleransi menghasilkan adanya tata cara pergaulan yang “enak” antara berbagai kelompok yang berbeda-beda, maka hasil itu harus dipahami sebagai “hikmah” atau “manfaat” dari pelaksanaan suatu ajaran yang benar. Hikmah atau manfaat itu adalah sekunder nilainya, sedangkan yang primer adalah ajaran yang benar itu sendiri. Sebagai sesuatu yang primer, toleransi harus dilaksanakan dan diwujudkan dalam masyarakat, sekalipun untuk kelompok tertentu –untuk diri sendiri- pelaksanaan toleransi secara konsekwen itu mungkin tidak menghasilkan sesuatu yang “enak”.
Materi-materi yang bersumber pada pesan agama dan fakta yang terjadi di lingkungan sebagai diuraikan di atas merupakan kisi-kisi minimal dalam rangka memberikan pemahaman terhadap keragaman umat manusia dan untuk memunculkan sikap positif dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok yang berbeda. Dalam proses pendidikan, materi itu disesuaikan dengan tingkatan dan jenjang pendidikan. Maksudnya, sumber bacaan dan bahasa yang digunakan disesuaikan dengan tingkat intelektual peserta didik di masing-masning tingkat pendidikan. Untuk tingkat pendidikan lanjutan, materi dipilih dengan menyajikan fakta-fakta historis dan pesan-pesan al-Qur’an yang lebih konkrit serta memberikan perbandingan dan perenungan atas realitas yang sedang terjadi di masyarakat saat ini.

PENUTUP

Pendidikan multikultural kian mendesak untuk di laksanakan di sekolah. dengan pendidikan multikultural, sekolah menjadi lahan untuk menghapus prasangka, dan sekaligus untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis dan pluralis.

Ada dua hal yang perlu dilakukan dalam pembangunan pendidikan multikultural di sekolah, yaitu; pertama, melakukan dialog dengan menempatkan setiap peradaban dan kebudayaan yang ada pada posisi sejajar. Kedua, mengembangkan toleransi untuk memberikan kesempatan masing-masing kebudayaan saling memahami. Toleransi disini tidak hanya pada tataran konseptual, melainkan juga pada teknik operasionalnya.

Daftar Pustaka

Abd. Rahman, Assegaf,  Politik Pendidikan Nasional Pergeseran Kebijakan Pendidikan Agama Islam dari Praproklamasi ke Reformasi, Yogyakarta: Kurnia Kalam, 2005.

Achmad, Nur (ed.), Pluralitas Agama Kerukunan Dalam Keragaman, Jakarta: PT. Gramedia, 2001.

Ainul Yaqin, M. Pendidikan Multikultural Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, Yogyakarta: Pilar Media, 2005.

Asy’arie, Musa, “Pendidikan Multikultural dan Konflik Bangsa”, Kompas, 3 September 2004, 4-5. Ma’arif, Syamsul, Pendidikan Pluralisme di Indonesia, Yogyakarta: Logung Pustaka, 2005.

Dawam, Ainurrofiq “Emoh” Sekolah Menolak “Komersialisasi Pendidikan” dan “Kanibalisme Intelektual”, Menuju Pendidikan Multikultural, Yogyakarta: INSPEAL Press, 2003.

Freire, Paulo, Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan, terj. Alois A. Nugroho, Jakarta: Gramedia, 1984.

Gorski, Paul, Multicultural Philosophy Series, Part 1: A Brief History of Multicultural Education, The McGraw-Hill Companies, 2003.

H.A.R, Tilaar, Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia Jakarta: Grasindo, 2002.

Machalli dan Musthofa, Imam, Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004.

Madjid, Nurcholish, “Masyarakat Madani dan Investasi Demokrasi: Tantangan dan Kemungkinan”, Republika, 10 Agustus 1999, 4-5.

Muhaemin Al-Ma’hady, “ Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural” dalam http://artikel.us/muhaemin 6-04.html, 27 Mei 2004.

Sadir, Darwis, “Piagam Madinah”, Al-Qanun Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam, Vo. 5, No. 1, Juni 2003, 250-257.

Oleh : Sigit Pramono Jati, M.Pd

        Cerpen ini membuka cakrawala kita mengenai kehidupan wanita keturunan Cina dalam keluarga Cina yang kolot. Keluarganya mendambakan keturunan laki-laki dari rahimnya sebagai penerus marga. Namun, sang wanita dihadapkan pada ketidakmampuan dalam melahirkan anak laki-laki dan ia pun terus “dirperkosa”, dicumbu, dan diperlakukan seperti ayam petelor oleh keluarganya.

Penggunaan simbol-simbol yang luar biasa oleh sang penulis untuk menggambarkan sistem masyarakat patriarki, dominasi pria yang berujung pada kekerasan pada wanita serta simbol wanita ideal. Penulis (Lan Fang) mampu merangkum tiga hal kompleks di atas menjadi simbol-simbol dalam sebuah cerpen yang tampak sederhana.

 

Pendahuluan

 

            Sastra adalah sebuah karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik (Bagyo S, 1986: 7). Sastra “menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial (Wellek & Warren, 1990: 109). Berdasarkan pada statemen tersebut, bisa dikatakan bahwa semua karya sastra ialah suatu cerminan sistem masyarakat, sistem politik, sistem ekonomi, dan sebagainya.

 

Hegel dan Taine dalam Wellek & Warren (1990: 111) menyatakan bahwa karya sastra merupakan “dokumen karena merupakan monumen”. Hal ini disebabkan karena karya sastra dianggap mampu mewakili zaman serta kebenaran sosial. Karya sastra juga mampu menyampaikan kebenaran yang sekaligus juga merupakan kebenaran sejarah dan sosial.

 

Luxemburg (1991: 11) menyatakan bahwa teks mengatakan sesuatu tentang sebuah dunia yang nyata atau dunia yang mungkin ada. Pernyataan ini semakin memperkuat pernyataan-pernyataan di atas mengenai karya sastra yang memang mewakili dunia nyata manusia.

 

Suatu karya sastra juga dapat dipandang sebagai gejala sosial (Luxemburg, 1989: 23). Karya sastra yang ditulis pada kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu.

 

Sebagai salah satu karya sastra, Cerpen “Bayi Ketujuh” karya Lan Fang merupakan suatu karya yang mapu merefleksikan kehidupan nyata manusia, dimana di dalamnya beradu antara interaksi, pola pikir, prinsip, status sosial, norma-norma, adat istiadat, serta aspek-aspek yang lain. Dalam cerpen tersebut, Lan Fang mampu menggambarkan bagaimana reaksi keluarga sebagai perwujudan dari masyarakat skala kecil terhadap “ketidakmampuan” tokoh aku untuk melahirkan bayi laki-laki. Menyingkapi “ketidakmampuan” tokoh aku, pihak keluarga suami tokoh aku pun terus mencekokinya dengan berbagai ramuan serta dogma mengenai pentingnya anak laki-laki sebagai penerus marga dalam keluarga.

 

Sastra sebagai refleksi dunia nyata, tentu saja menggunakan simbol-simbol untuk menggambarkan dunia nyata itu sendiri. Simbol sendiri oleh Luxemburg (1999: 67) diartikan sebagai lambang, sesuatu yang berdasarkan perjanjian atau konvensi mengacu pada gagasan atau pengertian tertentu. Rambu-rambu lalu lintas dan kata dalam bahasa adalah contoh simbol yang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Sedangkan Warren dan Welleck (1990: 239) mengartikan simbol sebagai objek yang mengacu pada objek lain, tetapi jua menuntut perhatian pada dirinya sendiri sebagai suatu perwujudan. Simbol juga berarti puzzle dan detil yang penuh warna yang terletak di tengah-tengah perwujudan yang konkret serta memberikan isi dari cerita tersebut.

 

Dalam cerpen Bayi Ketujuh karya Lan Fang, terdapat simbol-simbol yang mewakili objek lain, dalam hal ini tentu saja simbol-simbol yang mewakili dunia riil. Simbol-simbol ini dibawakan dalam bahasa yang sederhana serta menarik sehingga pemakalah bermaksud untuk “menguliti” simbol-simbol yang digunakan oleh penulis (Lan Fang).

 

Pembahasan

 

Simbol

 

            Simbol, seperti yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya adalah objek yang mengacu pada objek lain, tetapi jua menuntut perhatian pada dirinya sendiri sebagai suatu perwujudan. Simbol juga berarti puzzle dan detil yang penuh warna yang terletak di tengah-tengah perwujudan yang konkret serta memberikan isi dari cerita tersebut.

 

            Hubungan simbol dan objek sebagai makna yang dimaksud dari sebuah simbol tidak selalu bersifat arbitrer dan harus bisa dikembalikan pada fakta atau sejarah tertentu (Luxemburg, 1991: 68). Seperti misalnya salib sebagai lambang Kristus dan agama Kristen, palu arit yang melambangkan komunisme, serta bulu burung yang mengacu pada kewartawanan.

 

            Sastrawan kerap menggunakan simbol karena mereka menginginkan pembaca merasa bahwa suatu karakter, tempat, musim, atau kejadian memiliki maksud yang beragam, mereka ada untuk sesuatu yang lebih dari pada mereka yang tampak pada teks. Sastrawan sering menekankan simbol dengan menjabarkannya agar pembaca mampu merasa keberadaan suatu unsur sebagai sebuah simbol. Terkadang mereka pun memasukkan unsur simbol tersebut pada saat-saat unsur simbol tersebut dirasa kurang penting serta memberikan perhatian yang berulang-ulang pada unsur simbol tersebut.

 

            Seperti halnya Luxemburg (1991: 68) yang mengapresiasikan simbol semut dan Laura yang tergilas sebagai simbol terkungkungnya manusia dalam suatu keadaan yang tidak bisa dihindarinya.

 

Bayi Ketujuh

 

            Cerpen ini merupakan salah satu karya Lan fang, penulis kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970, seorang penyandang gelar Sarjana Hukum, serta penulis yang telah berhasil menelurkan enam buah buku; Reinkarnasi, Pai Yin, Kembang Gunung Purei, Laki-laki yang Salah, Perempuan Kembang Jepun, serta Yang Liu.

 

            Cerpen ini bertemakan mengenai penindasan seorang wanita. Wanita tersebut terus diperlakukan sebagai “ayam betina petelur” karena tidak mampu memberi keturunan laki-laki untuk keluarga mertuanya. Ia dipaksa melahirkan sampai 7 kali karena belum lahirnya keturunan laki-laki dari rahimnya.

 

            Lan Fang, sebagai penulis membawakan cerpe ini mengunakan alur maju-mundur. Sang penulis pertama-tama membawakan cerpen ini tidak secara kronologis, melainkan melompat-lompat, maju ke masa depan, setelah itu mundur ke belakang, lalu menutup cerita ini dengan meloncat lebih ke depan lagi.

 

            Terdapat dua setting utama dalam cerpen ini. Setting yang pertama ialah kamar rawat inap seorang pasien operasi caesar yang telah melahirkan anak perempuannya yang ketujuh. Setting yang kedua ialah keluarga pasien tersebut yang didalamnya “memperkosanya” untuk tetap melahirkan selama belum terlahirnya anak laki-laki.

 

            Dalam cerpen ini terdapat tiga tokoh utama; aku, suami, dan mertua perempuan. Aku ialah seorang istri dari seorang laki-laki dari keluarga terpandang. Ia diharapkan mampu memberikan keturunan laki-laki namun ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ia telah melahirkan 7 kali dan semuanya perempuan. Sedangkan suami iala lelaki terpelajar penyandang gelar sarjana komputer dan bisnis keuangan dari Amerika. Namun keterpelajarannya seakan dibutakan dan diirasionalkan oleh pikiran-pikiran kolot mengenai keturunan laki-laki dan hal ini membuatnya seakan menindas tokoh aku. Sedangkan mertua perempuan ialah wanita dari keluarga terpandang dan kolot.

 

 

 

Simbol dalam Cerpen bayi Ketujuh

 

Seperti apresiasi Luxemburg pada subbab simbol, secara umum cerpen Bayi Ketujuh ini menyimbolkan terkungkungnya manusia (tokoh aku) dalam suatu keadaan yang tidak bisa dihindarinya.   Akuterperangkap dalam masalah dominasi pria terhadap wanita, kekerasan terhadap perempuan, simbol wanita, sistem masyarakat patriarki.

 

Dan point kemenangan itu adalah aku dilahirkan pada hari, bulan, tahun, waktu yang bagus. Berdasarkan feng shui , shio ku cocok dengan shio suamiku. Setelah semua aspek dihitung oleh calon mertua perempuanku, diantara semua gadis yang dicalonkan, akulah yang akan membawa nasib keberuntungan, harmonis, umur panjang dan banyak anak...

 

Banyak anak... banyak anak...banyak anak... (halaman 169)

 

"Tetapi belum ada cucu laki-laki," begitu jawabnya tenang seakan-akan aku adalah cetakan puding agar-agar jelly. Di mana ia mengaduk sebungkus agar-agar jelly dengan gula pasir dijerang di dalam panci, lalu setelah mendidih ia menuangkan ke dalam cetakan plastik yang berbentuk aneka rupa. (halaman 171)

 

"Kamu menantu tertua di keluarga ini. Coba lihat, ipar-ipar perempuanmu semua sudah memberikan cucu laki-laki. Masa kamu tidak bisa? Padahal hokky mu bagus. Kamu harus mempunyai anak laki-laki yang meneruskan warisan perusahaan dan menyambung marga," begitu mertuaku bersikeras dengan nada menyalahkan. (halaman 172)

 

"Banyak anak itu banyak rezeki. Apalagi kalau banyak anak laki-laki. Sepertinya kali ini kamu mengandung anak laki-laki," kata shinhe yang memberikan obat penyubur. Mama juga sudah bertanya kepada suhu yang menghitung feng shui, berdasarkan perhitungannya, kali ini adalah anak laki-laki. (halaman 173)

 

            Potongan-potongan cerita di atas merupakan simbol mengenai pola pikir masyarakat yang patriarki dan cenderung konvensional. Aku dalam cerpen Bayi Ketujuh menyimbolkan masyarakat keturunan Cina yang mengagungkan anak laki-laki hingga bisa dikatakan keluarga aku mengabaikan keenam anak perempuan yang telah dilahuirkan aku. Keluarga tersebut terus dan terus menindas aku untuk terus hamil dan melahirkan demimendapat keturunan laki-laki.

 

            Sistem masyarakat yang patriarki tersebut mengarah pada dominasi pria terhadap wanitayang disimbolkan dalam cerpen ini. Pendominasian yang sewenang-wenang ini menimbulkan kekerasan pada perempuan, baik verbal maupun seksual yang disibolkan pada potongan cerita di bawah ini;

 

Lalu apakah aku harus mengatakan kepadanya bahwa secara teori kedokteran, jenis kelamin bayi ditentukan dari khromosom Y yang dibawa spermatozoa anak laki-lakinya pada saat pembuahan? Bukankah sel telur ovum perempuan hanya mengandung khromosom XX? Jadi bukan kesalahanku kalau aku terus menerus melahirkan anak perempuan. Walau pun aku bukan mahasiswa kedokteran dan kebanyakan nilai ujianku hanya standar C saja, tetapi aku tidak terlalu bodoh untuk mengingat pelajaran biologi.

 

"Lebih baik kita ke dokter saja," begitu kataku kepada suamiku. "Kita menjalani proses inseminasi saja, kalau perlu bayi tabung sekalian. Pilih semua khromosom Y dari spermatozoa-mu, agar semua menjadi bayi laki-laki."

 

Aku sudah tidak tahan lagi menjadi cetakan puding agar-agar jelly. Seharusnya suamiku yang lulusan luar negeri itu bisa menerima pendapatku. Setidaknya ia bisa membelaku di hadapan mamanya bila aku yang disalahkan karena terus menerus melahirkan anak perempuan.

 

"Ke dokter?! Hanya untuk membuat bayi laki-laki saja kita harus ke dokter?! Lalu orang tuaku dan saudara-saudaraku semua akan tahu bahwa aku yang tidak mampu memberi bayi laki-laki! Begitu?! Gimana sih kamu? Yang benar saja. Itu akan mempermalukan aku, tahu?!" suamiku malah mengomel panjang lebar kepadaku. (halaman 172)

 

            Lalu ketika suamiku mencumbuku untuk calon bayi laki-laki lagi, kusuruh ia memadamkan lampu. Bukan karena aku merasa minder dengan bentuk tubuhku yang sudah mengalami permak berkali-kali. Tetapi karena aku merasa ini bukan kegiatan bercinta lagi yang membutuhkan sarana untuk saling memandang pancaran ekspresi dari pasangannya. Ini hanya sekadar aktivitas pembibitan seperti ayam betina petelor, seperti oven kue bolu, atau seperti injection moulding machine di pabrik plastik yang menghasilkan gayung yang sudah diproses melalui moulding dari biji-biji plastik. (halaman 173)

 

            Potongan cerita halaman 172 di atas menyimbolkan dominasi pria terhadap wanita yang mengarah pada kekerasan verbal. Bagaimana argumentasi yang rasional dari seorang wanita (aku) dipatahkan hanya dengan kearogansian, gengsi laki-laki, serta sifatnya yang mendominasi karena penerapan sistem masyarakat patriarki.

 

            Sedangkan pada halama 173 menyimbolkan dominasi pria yang mengarah pada kekerasan seksual. Suami seakan-akan memperkosa aku dalam kegiatan bercinta yang seharusnya sebagai pancaran ekspresi pasangan. Aku pun merasa tidak merasa dimanusiakan karena ia merasa kegiatan bercinta tersebut hanyalah aktivitas pembibitan seperti ayam betina petelor meskipun aku ialah wanita yang seharusnya mendapat perlakuan lebih manusiawi.

 

            Sosok wanita ideal pun disimbolkan oleh sang penulis.

 

Seperti yang sudah-sudah, sehabis masa empat puluh hari bersalinku, aku akan menghabiskan banyak waktuku di salon untuk menjalani program perampingan dan pembentukan tubuh lagi. Lemak-lemak di seputar lengan, paha, punggung dan perut akan disedot. Payudara akan dibentuk agar kencang kembali. Aku akan menjalani diet ketat. Juga senam aerobic untuk mengencangkan otot-otot yang kendor.

 

Lalu...simsalabim!

 

Tubuhku kembali seperti patung pahatan seniman Bali. Kembali menjadi tubuh sempurna yang memamerkan kemolekan perut rata dan dada kencang. (halaman 170)

 

Dua paragraf di atas memberikan gambaran mengenai sosok wanita ideal yang tertanam pada otak masyarakat. Sang penulis menyimbolkan sosok wanita ideal sebagai sosok dengan tubuh sempurna dengan perut rata dan dada kencang, bukan sebagai wanita paska melahirkan dengan lemak dimana-mana, otot-otot kendor dan perut yang menggelambir.

 

            Jika ditilik secara keseluruhan, cerpen ini melambangkan pola pikir masyarakat keturunan Cina yang mengagung-agungkan anak laki-laki dan berpegang teguh pada kepercayaan tradisional. Pengagungan anak laki-laki masyarakat keturunan Cina dalam cerpen ini sampai mengesampingkan keberadaan 6 anak perempuan, hak, serta perasaan aku sebagai ibu dan wanita.

 

Konon di negara Cina, sebagai negara dengan penduduk terbesar di dunia, mereka menerapkan kebijakan satu anak di setiap keluarga. Tapi karena pengagungan anak laki-laki, kebijakan ini dianulir jika anak pertama ialah perempuan dan keluarga tersebut diijinkan untuk memiliki seorang anak lagi. Kebijakan ini memberikan dampak yang cukup mengherankan. Diperkirakan di masa yang akan datang, Negara tersebut akan kelebihan pria dan kekurangan wanita, sehingga muncul pameo bahwa kemungkinan menjadi homo lebih besar di negara tersebut.

 

Kepercayaan tradisional telah mengakar kuat pada masyarakat keturunan Cina sehingga dalam cerpen Bayi Ketujuh terdapat banyak simbol yang mengacu pada pengambilan keputusan yang irasional berdasarkan kepercayaan; shio, feng shui, dan lain-lain.

 

Selain itu sistem masyarakat patriarki yang disimbolkan dalam cerpen ini menimbulkan dominasi laki-laki terhadap wanita yang berujung pada penindasan wanita dengan adanya kekerasan, baik verbal maupun seksual.

eni purwati Oleh : Dr. Eni Purwati

 Pendahuluan

Tak seorangpun menginginkan terjadinya tindak kekerasan, apalagi di lembaga pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara damai dan edukatif. Namun kenyataannya masih banyak, bahkan hampir semua sekolah/madrasah belum dapat memberikan hak anak, bahkan melakukan kekerasan terhadap anak. Tanpa disadari hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan  Deklarasi PBB tentang hak-hak anak

Hukuman secara fisik dan emosional dari guru terhadap murid merupakan hal yang lumrah terjadi di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Banyak guru biasa mencubit, memukul anak-anak bahkan menghina mereka, baik di sekolah-sekolah negeri maupun sekolah yang berbasis keagamaan. Kadang guru tidak menyadari bahwa hal ini sebetulnya terlarang dalam hukum Indonesia. Undang-undang Perlindungan Anak No. 23, bab 54 secara tegas menyatakan bahwa guru dan siapapun lainnya di sekolah dilarang untuk memberikan hukuman fisik kepada anak-anak. Terlebih lagi Indonesia merupakan salah satu penanda tanganan dari konversi PBB untuk Hak-hak Anak, disebutkan dalam artikel 37 yang mengharuskan negara menjamin bahwa: ”Tak seorang anakpun boleh mendapatkan siksaan atau kekejaman lainnya, tindakan tidak manusiawi ataupun perlakuan yang merendahkan atau hukuman”. Meski demikian, tampaknya undang-undang tersebut belum dipahami oleh kebanyakan pelaku pendidikan, hal ini sebagaimana laporan penelitian Ibu Nur Hidayati, dkk, dari penelitian lapangan terhadap 8 Madrasah Ibtidaiyah di propinsi Riau ditemukan bahwa hukuman jasmani lumrah terjadi di semua madrasah yang dituju, dengan kisaran antara 50% - 80%, anak-anak melaporkan bahwa mereka pernah mengalami hal ini dari guru-guru mereka secara rutin.[1]

Ibarat gunung es, kasus di atas baru di permukaan. Masih banyak tindak kekerasan dalam pendidikan yang tidak tampak. Demikian rapuhnya dunia pendidikan kita, hingga aksi kekerasan dan pelanggaran HAM para pelajar, para remaja, para penerus generasi bangsa terus meningkat.

 

Hak Anak dalam Pendidikan

Dalam Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Rights)  Pasal 1 disebutkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan hendaknya diselenggarakan secara bebas (biaya), sekurang-kurangnya pada tingkat dasar. Di samping itu, pendidikan dasar haruslah bersifat wajib; pendidikan keahlian dan teknik hendaknya dibuat secara umum dapat diikuti oleh peminatnya; dan pendidikan tinggi hendaknya dapat diakses secara sama bagi semua orang atas dasar kelayakan.

Dalam Pasal 2 Deklarasi HAM juga dinyatakan bahwa pendidikan hendaknya diarahkan untuk mengembangkan secara utuh kepribadian manusia dan memperkokoh penghormatan terhadap HAM dan kebebasan asasi. Pendidikan hendaknya mendorong saling pengertian, toleransi, dan persahabatan antar berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan ras dan agama, dan hendaknya meningkatkan kegiatan PBB untuk memelihara perdamaian.

Sedangkan pada Pasal 3 disebutkan bahwa orang tua memiliki hak utama untuk menentukan jenis pendidikan yang semestinya diberikan kepada anak-anak mereka. PBB menindaklanjuti pasal-pasal ini melalui berbagai kegiatan untuk memelihara perdamaian dunia. Dengan kata lain, pendidikan damai adalah upaya menyeluruh PBB melalui proses belajar mengajar yang humanis, dan para pendidik damai yang memfasilitasi perkembangan manusia. Mereka berjuang melawan proses dehumanisasi yang ditimbulkan akibat kemiskinan, prasangka diskriminasi, perkosaan, kekerasan, dan perang.

Dalam upaya global, para pendidik berupaya memajukan pengajaran nilai, standar dan prinsip yang terwujud dalam instrumen sebagaimana Pemusnahan Semua Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on Elimination of all Form of Discrimination Against Women, CEDAW),[2]Descrimination Based on Religion or Belief).[3] Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child, CRC), dan Deklarasi Sedunia tentang Pendidikan untuk semua (Education for all).

Secara khusus dalam CRC terdapat empat prinsip dasar dalam menyelenggarakan pendidikan yang dapat memenuhi hak anak, yaitu: non-discrimination (non diskriminasi), the best interests of the child (kepentingan terbaik bagi anak), the right to life, survival and development (hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan), dan respect for the views of the child (penghargaan terhadap pendapat anak).

Pertama, Non-Discrimination. Yang dimaksud non diskriminasi adalah penyelenggaraan pendidikan anak yang bebas dari diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang etnis, agama, jenis kelamin, ekonomi, keluarga, bahasa dan kelahiran serta kedudukan anak dalam status keluarga. Untuk mengimplementasikan prinsip ini pemerintah memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang layak.[4]

Kedua, The Best Interests of The Child. Yang dimaksud dengan prinsip Kepentingan Terbaik bagi Anak adalah dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan, kesejahteraan sosial pemerintah maupun swasta, lembaga peradilan, badan legislatif, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.[5]

Ketiga, The Right to Life, Survival and Development.Yang dimaksud dengan prinsip hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang harus dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua.[6] Karena itulah KHA memandang pentingnya pengakuan serta jaminan dari negara bagi kelangsungan hidup dan perkembangan anak, seperti dinyatakan dalam pasal 6 ayat 1, bahwa negara-negara peserta mengakui bahwa setiap anak memilki hak yang melekat atas kehidupan (inherent right to life)”, serta ayat 2 “ negara-negara peserta secara maksimal mungkin akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (survival and development of child)”.[7]

Keempat, Respect for The Views of The Child. Yang dimaksud dengan penghargaan terhadap pendapat anak adalah penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya.[8]

Pembelajaran Berbasis Pemenuhan Hak Anak

 

a. Menciptakan suasana kondusif

Suasana yang kondusif akan meningkatkan minat dan motivasi belajar anak. Oleh karenanya, suasana yang kondusif perlu terus dijaga ketika proses pembelajaran dan latihan dilakukan. Sebab dengan suasana tersebut internalisasi nilai dan sikap menjadi efektif. Bila dijumpai perusak suasana hendaklah segera diatasi agar tidak merusak keseluruhan proses. Dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sosial atau suasana kelas merupakan penentu utama psikologis yang mempengaruhi belajar akademis. Di samping itu, guru akan mencapai hasil lebih tinggi jika mereka mampu menyingkirkan segala amcam ancaman, melibatkan emosi siswa dan membangun hubungan yang humanistik.[9]

Bobbi dePorter menyarankan terpenuhinya enam suasana agar dapat membangkitkan minat, motivasi, dan keriangan anak mengikuti proses belajar. Pertama, menumbuhkan niat belajar. Keyakinan seseorang mengenai kemampuan dirinya amat berpengaruh pada kemampuan itu sendiri. Dalam proses belajar-mengajar, baik guru maupun siswa hendaknya dapat membangkitkan niat tersebut dari dalam dirinya sendiri. Bila dijumpai siswa yang kurang bersemangat, maka mentalitas guru terhadap iklim belajar akan menjadi teladan dan berpengaruh bagi keseluruhan proses belajar. Memperhatikan emosi siswa juga dapat membantu percepatan pembelajaran mereka. Bila niat tidak mudah tumbuh dari dalam diri sendiri, dorongan orang lan, dalam hal ini terutama guru, amat diperlukan, agar tidak mempengaruhi semangat belajar yang lain.

Kedua, menjalin rasa simpati dan saling pengertian untuk menumbuhkan kepedulian sosial, sikap toleransi dan saling menghargai di antara siswa. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh, seperti:

  • Memperlakukan siswa sebagai manusia sederajat
  • Mengetahui apa yang disukai siswa, cara pikir mereka, dan perasaan mereka mengenai hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka
  • Membayangkan apa yang siswa lakukan
  • Mengetahui hal yang menghambat para siswa dalam memperoleh hal yang benar-benar mereka inginkan. Jika guru memang tidak mengetahui hal yang diinginkan siswa, maka sebaiknya ditanyakan kepada siswa. Hindari sejauh mungkin sikap sok tahu.
  • Berbicara dengan jujur kepada para siswa dengan cara yang membuat mereka mendengarkan dengan jelas dan halus.
  • Melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama para siswa.

Ketiga, menciptakan suasana riang. Kegembiraan membuat siswa lebih mudah untuk belajar dan bahkan dapat mengubah sikap negatif. Belajar dalam iklim menyenangkan, tanpa ada paksaan dan tekanan, akan menimbulkan kesadaran untuk menemukan sendiri jawaban atas persoalan yang dihadapi. Sebaliknya suasana tegang dan tertekan mengakibatkan siswa belajar dengan terpaksa. Menciptakan suasana riang dapat dilakukan dengan membiasakan membuat selingan. Misalkan, bertepuk tangan, berteriakan ‘hore’ menghentikkan jari, menulis poter, membuat catatan pribadi, membuat kejutan, pengakuan atas prestasi siswa, pujian maupun penguatan. Hal terpenting dar langkah ini adalah menjaga suasana riang agar tidak berubah menjadi senda gurau.

Keempat, mengambil risiko. Sebagai gambaran, kita bisa mengingat saat-saat belajar naik sepeda di masa kecil? Pada mulanya susah,…namun terus dicoba. Kadang kala jatuh, tapi masih tetap mau bangun. Tidak jarang terluka karena kurang hati-hati. Memang berisiko, tetapi tetap menyenangkan. Keberanian mengambil risiko yang menantang itulah terletak keasyikan belajar. Hal-hal itulah yang hendaknya diwujudkan dalam suasana belajar di ruang kelas: tidak mudah menyerah, terus berpikir untuk memecahkan masalah. Belajar dengan tantangan bisa mengurangi kejenuhan dan rasa bosan.

Kelima, menciptakan rasa saling memiliki. Sebab, rasa saling memiliki membentuk kebersamaan, kesatuan, kesepakatan dan dukungan dalam belajar. Rasa saling memiliki juga memeprcepat proses mengajar dan meningkatkan kepemilikan. Kebanyakan konflik kekerasan yang muncul adalah akibat ketiadaan rasa saling memiliki. Pendidikan damai amat mementingkan kebersamaan, kesatuan dan kesepakatan bersama untuk saling menghargai perbedaan dan menyelesaikan konflik tanpa keerasa.

Keenam, menunjukkan teladan yang baik. Perilaku nyata akan lebih berarti daripada seribu kata. Hal-hal yang diperbuat oleh guru akan menjadi cermin bagi para murid. Untuk itu, sebaiknya mendahulukan bukti-bukti berupa sikap, sikap damai, kasih sayang, empati, disiplin dna lain sebagainya, sebelum mengajarkan dengan kata kepada orang lain tentang damai, kasih sayang dan seterusnya.

Langkah ini bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut.

  • Memberikan teladan dalam wujud komunikasi yang jelas
  • Mengakui setiap usaha siswa
  • Murah senyum
  • Menggunakan energi untuk menciptakan lebih banyak energi
  • Menjadi pendengar yang baik
  • Mengungkapkan pikiran para siswa melalui kata-kata Anda sendiri.
    • Menyatakan kembali situasi negatif untuk menemukan hal-hal yang positif di dalamnya.

b. Meningkatkan kualitas emosi positif

Contoh-contoh kualitas emosi positif adalah sikap jujur, toleransi, saling menghargai, empati terhadap sesama, rasa percaya diri, sabar, dan sebagainya. Emosi positif ini umumnya dimiliki oleh siswa atau remaja dari interaksi sosialnya, seperti keluarga, sekolah dan pergaulan mereka di tengah masyarakat. Pendidikan keluarga yang baik akan mendukung keberhasilan anak atau remaja di sekolah. Begitu pula halnya dengan masyarakat. Ketiganya berinteraksi secara sinergis, saling mempengaruhi. Anak yang pembohong umumnya berasal dari keluarga yang suka bohong. Sebaliknya, keluarga yang hidup membiasakan kejujuran, rasa tolerasi, saling menghargai, percaya diri sabar dan lain-lain. Menyebabkan anak atau remaja akan terpola dengan kualitas emosional tersebut. Kualitas emosional yang demikian sepatutnya ditingkatkan melalui pendidikan formal di sekolah.

Pendidikan berfungsi menanamkan kualitas emosi positif kepada peserta didiknya. Proses internalisasi nilai positif bukanlah pengetahuan tentangnya, seperti memperkenalkan apa itu jujur, bagaimana konsep toleransi, atau menjelaskan apa itu empati. Sama sekali bukan pengetahuan tentangnya. Proses internalisasi nilai positif adalah penciptaan suasana, teladan, penerapan strategi belajar dan interaksi sosial dalam komunitas pendidikan. Penanaman kualitas emosi positif berguna bagi pembentukan watak (character building)

Membangun watak tergolong dalam hidden curriculum  yang pencapaiannya bergantung pada proses pendidikan ketimbang pada substansinya. Watak tidak dapat diajarkan, melainkan diperoleh melalui pengalaman anak yang perlu dilatih. Model pembiasaan akan menghasilkan pengalaman yang dapat membangun watak. Karenanya, yang perlu dikontrol adalah kondisi yang memberikan pengalaman belajar mereka.

Pembangunan watak dan model lebih efektif diperoleh melalui cara dialogis, dengan jalan mendiskusikan kasus nyata. Menurut Paulo Freire, untuk menjadikan pendidikan itu bermakna, maka paradigma  yang digunakan harus diarahkan kepada pendidikan dialogis dan transformatif. Pendidikan dengan nilai transformatif menghasilkan sumber daya dengan kinerja yang mandiri, tidak perlu dikontrol, produktif, dapat mengendalikan diri (dalam mengawali dan mengakhiri pekerjaan, dalam menciptakan dan melaksanakan pekerjaan, dan dalam menyelesaikan pekerjaan).

Berikut ini akan diuraikan beberapa kualitas emosi positif dan imbangnya. Tatkala seseorang tidak memiliki emosi positif tersebut maka yang berkembang kemudian adalah karakter negatif.

Pertama, jujur dan hukuman. Apabalia seorang anak mau mengakui secara jujur atas perbuatannya yang salah, sebaiknya ia diperlakukan secara arif, bukan dibalas dengan kemarahan. Misalnya, santi, seorang siswi kelas IV SD, tidak mengerjakan PR. Guru akan bertanya kepadanya mengapa ia tidak mengerjakan PR. Jika santi dengan jujur mengatakan bahwa ia lupa, maka sang guru hendaknya dengan arif mengingatkan agar tidak mengulangi kealpaannya, misalnya dengan membiasakan menyelesaikan tugas ketika ada kesempatan dan tidak menunda-nundanya. Bukan dengan memarahi, apalagi menghukum secara fisik. Sifat lupa adalah alamiah, dan karenanya tidak sepatutnya seseorang mendapat hukuman tidak mendidik atas kealpaannya. Meskipun demikian, tugas adalah sebuah amanat yang harus dikerjakan. Santi bisa dibimbing untuk mengerjakan PR dengan cara damai, tanpa kekerasan.

Jika cara kekerasan ditempuh, misalnya menghukum santi karena tidak mengerjakan PR, maka suatu saat apabila santi terlupa lagi mengerjakan PR, ia bisa berbohong, mencari alasan lain sehingga sang guru tidak memberi hukuman. Jika alasan berbuat sesuatu disampaikan secara jujur oleh seorang anak dan ia harus mendapatkan kecaman dan hukuman, maka anak tersebut akan mencari jalan untuk menutupi kesalahannya agar tidak dikecam atau dihukum. Bila santi pamit kepada orang tuanya bahwa ia keluar rumah untuk bermain kerumah temannya akan dimarahi, maka bisa saja santi berbohong dengan mengatakan keluar rumah untuk belajar bersama dengan temannya. Akibatnya, watak bohong akan melekat dalam dirinya karena orang tuanya sudah tidak menghormati terhadap kejujurannya. Lagi pula perlakuan hukum-menghukum ini akan dipahami sebagai jalan pintas untuk mengatasi masalah. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika santi di kemudian hari menjadi guru, dan muridnya melakukan kesalahan? Tentulah terbayang di benak kita bahwa Santi akan menempuh cara hukuman ini untuk mengatasi masalahnya. Penerapan hukuman bagaimanapun berpotensi menimbulkan kekerasan.

Apakah ini berarti bahwa hukuman itu tidak perlu diberikan? Tentu tidak demikian maksudnya. Hukuman ditempuh sebagai alternatif yang paling akhir, setelah proses bimbingan, sindiran, teguran, peringatan lisan dan tertulis, dan skorsing sudah tidak efektif lagi, sementara kesalahan yang dilakukan tergolong berat dan bila dibiarkan dapat menular kepada  yang lain. Jika demikian halnya, maka sekolah dalam hal ini guru, bisa menempuh cara hukuman untuk menjadikan kualitas emosional anak tidak terus-menerus dalam karakter negatif. Hukuman yang diberikan pun harus bersifat edukatif, bukan semata-mata bersifat fisik, apalagi dilakukan dengan rasa dendam dan kebencian. Lagi pula tidak semua kesalahan harus berakhir dengan hukuman.

Kedua,  bersikap toleran, tidak memaksakan untuk terjadinya bentrokan. Sikap toleran amat mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan. Toleransi berarti mendiamkan, atau membiarkan suatu perbuatan, sikap atau pendapat orang lain yang berbeda dengan perbuatan, sikap atau pendapat diri sendiri, meski ada perbedaan secara diametral sekalipun. Dalam bahasa Jawa toleransi disebut sebagai tepa selira, yakni menjaga perasaan orang lain agar ia tidak tersinggung.

Perilaku mendiamkan atau membiarkan tersebut dilakukan dengan kesadaran bahwa seseorang perlu menempatkan perbuatan, sikap dan pendapat orang lain sebagai hal yang berbeda dengan perbuatan, sikap dan pendapat orang tersebut. Dengan kesadaran toleransi atau tepa selira tadi, bila suatu saat nanti terjadi suatu konflik antar sesama, maka win-win solution akan lebih mudah dicapai, karena masing-masing pihak dapat memahami perbuatan, sikap atau pendapat orang lain. Inti dari toleransi adalah menghargai perbedaan, dan membiarkan kondisi berbeda tersebut seperti apa adanya. Jadi, toleransi adalah agree in disagreement. Perdamaian diperoleh melalui sikap saling mengerti dan toleransi ini. Sebaliknya, bila orang sudah tidak lagi menyadari arti perbedaan, maka potensi konflik dapat berubah sewaktu-waktu menjadi bentuk-bentuk kekerasan.

Menghargai perbedaan berarti sikap untuk menerima kehadiran orang lain di tengah kehidupan kita secara kolektif, learning to live together. Sekedar contoh, salah satu SMU di Virginia, Amerika Serikat, menghimpun para siswa yang berasal dari 85 negara di dunia yang berbeda agama, bangsa, bahasa, budaya, ras dan lain-lain. Contoh lainnya, International Islamic University malaysia  yang berdiri sejak 1983 setelah gagasan Islamisasi Ilmu diterima dan diaplikasikan oleh beberapa negara Islam. Universitas ini menerima perwakilan dari 32 negara dan 30% di antaranya berasal dari luar negeri.

Dalam proses belajar-mengajar, sikap toleransi dapat ditumbuhkan melalui berbagai metode pembelajaran. Jika Pak Fuad di tengah-tengah mengajarnya, memberi waktu luang untuk tukar pendapat, diskusi, atau tanya jawab untuk bertanya, membahas, usul, mengkritik atau bahkan menolak pendapatnya mengenai suatu masalah, dan itu dliakukan secara rasional dengan menghargai perbedaan pendapat di antara peserta didik, maka dengan demikian Pak Fuad telah berupaya menanamkan sikap toleransi di antara para muridnya. Lebih dari sekedar pengetahuan tentang apa itu toleransi, untuk apa toleransi dan bagaimana cara bertoleransi, Pak Fuad telah memberi teladan melalui metode mengajarnya tadi, memberi contoh konkrit bersikap toleransi. Bila setiap kali mengajar Pak Fuad bersikap demikian, …bila semua guru bersikap demikian, …bila semua sekolah bersikap demikian, …dan bila semua orang bersikap demikian, …toleransi  menjadi bagian dari kehidupan, maka budaya damai (culture of peace) akan mudah dicapai.

Ketiga,  empati antipati. Dalam Emotional Intellegence, Daniel Goleman menyebut empati sebagai “keterampilan dasar manusia” . Orang yang memiliki empati, kata Goleman, “adalah pemimpin alamiah yang dapat mengekspresikan dan mengartikulasikan sentimen kolektif yang tidak terucapkan, untuk membimbing suatu kelompok menuju cita-citanya”. Hasil pengujian terhadap lebih dari 7000 orang di Amerika Serikat dan 18 negara lain menunjukkan bahwa manfaat empati antara lain adalah orang menjadi lebih stabil secara emosional, lebih populer, lebih ramah dan lebih berhasil dalam percintaan.[10]  Menurut Thomas Hatch dan Howard Gardner, empati adalah bagian penting untuk pesona, sukses sosial bahkan kharisma. Empati mewujud pada perasaan maupun pemahaman pemikiran seseorang dengan cara menempatkan diri atau ikut merasakan perasaan orang lain tanpa merasakan yang sebenarnya. Seorang yang berempati cenderung merasakan sesuatu  yang dilakukan orang lain andai ia berada dalam situasi yang dialami oleh orang lain tersebut. Melalui empati, orang menggunakan perasaannya secara efektif di dalam situasi orang lain, didorong oleh emosinya seolah-olah ia ikut ambil bagian dalam gerakan-gerakan yang dilakukan orang lain, feeling into a person or thing.

 Untuk lebih jelasnya, berikut sebuah contoh tentang empati. Bila anda penggemar sepak bola, anda akan bersedia bangun pukul 1 malam, saat orang lain lagi tidur nyenyak, untuk menyaksikan kompetisi sepak bola. Seolah tidak ingin ketinggalan, tiap langkah pemain dan gerakan bolanya anda ikuti dengan seksama. Terlebih bila anda menjagokan salah satu regu atau klub bintang anda, pastilah anda amat berharap terjadi tendangan gol ke kubu lawan. Setelah lama waktu pertandingan berlangsung, anda tidak malah bosan, melainkan makin antusias, penasaran dan berharap-cemas agar idola anda menang. Jika pada detik-detik terakhir klub pilihan anda mencetak gol, dengan penuh semangat anda beranjak dari tempat duduk seraya melompat dan bersorak gembira. Saat pertandingan usai, dan keadaan pun tenang kembali, ketahuilah bahwa gerakan emosional anda itu termasuk empati. Anda merasakan kemenangan dan kegembiraan yang sama sebagaimana dirasakan oleh pencekatk gol, bahkan bisa lebih, padahal anda bukan pencetak gol. Anda sekedar penggemar sepak bola, dan bisa jadi anda berada ribuan mil dan stadion sepak bola tersebut.

Empati, jika diberikan kepada semakin banyak orang maka ia akan berubah menjadi welas asih yang membangun. Dengan empati, anda menjadi seorang warga dunia. Apakah Anda memiliki rasa empati? Untuk membantu mengetahuinya, Jeanne Seagal membuat daftar pertanyaan di bawah ini guna mengukut empati. Caranya, ambil sikap sesantai mungkin beberapa saat, kemudian jawablah pertanyaan berikut dengan cepat, jujur, dan tanpa membuat penilaian.

1.      Apakah pada umumnya Anda merasa nyaman di rumah dan aman bersama orang lain?

2.      Apakah Anda senang memelihara binatang (atau Anda ingin memelihara jika belum punya)?

3.      Apakah Anda merasa segar dan damai dengan berjalan-jalan di hutan, pantai atau padang rumput?

4.      Pernahkah Anda memperhatikan perasaan yang berlawanan dengan perkataan seseorang-kemarahan di balik raut wajah yang tenang. Kesedihan di balik suara yang teratur, kegembiraan di balik kata-kata yang tersusun?

5.      Apakah Anda selalu langsung tahu ketika perbuatan yang Anda lakukan tanpa sengaja membuat orang lain merasa tidak senang?

6.      Dapatkah anda membiarkan diri mengalami perasaan orang lain yang terluka, akibat perbuatan yang Anda sengaja dan mungkin akan anda lakukan lagi?

7.      Dapatkah Anda terus mendengarkan meskipun orang lain meminta lebih dahulu dari yang rela Anda berikan?

8.      Apakah Anda menjadi defensif ketika seseorang yang Anda sayangi mengatakan bahwa Anda telah menyakiti atau mengecewakannya?

9.      Dapatkah Anda  mendengarkan tanpa haraus setuju atau tidak setuju dengan seseorang?

10.  Apakah anda berhenti mendengarkan orang ketika anda menjadi takut?

11.  Ingatkah Anda keluhan pihak lawan saat terakhir kali Anda berselisih dengannya?

12.  Ketika anak Anda mengalami kekecewaan besar, haruskah Anda segera melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa sakitnya?

13.  Apakah Anda meyakini bahwa berkata tidak berarti menolak kebutuhan orang lain?

Jawaban “YA” yang diberikan pada pertanyaan nomor, 1,2,3,4,5,6,7,8, dan 11, dan jawaban “TIDAK” yang diberikan pada pertanyaan 9, 10, 12, dan 13, akan menunjukkan kemampuan empati dalam situasi berbeda-beda. Jika Anda mengisi jawaban seperti itu, maka Anda dapat memahami perasaan, kebutuhan, keinginan, dan harapan orang lain sambil tetap sepenuhnya sadar akan pengalaman emosional Anda yang terpisah. Anda dapat merasakan sakit orang lain tanpa mengorbankan diri atau harus mengendalikan situasi. Anda memperoleh kekuatan inid ari sumber-sumber daya fisik, emosional, dan mental yang sama dengan yang Anda kerahkan dalam kesadaran aktif. Di tengah pertengkaran yang sengit sekalipun, misalnya, Anda tahu pasti kapan harus bertahan dan kapan harus menyerah karena Anda sangat menyadari perasaan Anda dan perasaan orang lain tentang hal yang dipertengkarkan.[11]

Empati berbeda dengan simpati. Simpati merupakan kecenderungan untuk ikut merasakan segala sesuatu yang dirasakan orang lain karena kesamaan cita-cita, penderitaan, daerah atau lainnya. Simpati adalah feeling with another person, sedangkan empati lebih dalam dari itu. Empati tidak harus terjadi akibat persamaan kondisi antara satu dengan yang lain, atau didahului dengan saling kenal. Saya di sini dengan Anda di sana mungkin saja tidak saling kenal atau tidak memiliki kesamaan, akan tetapi kalau saya mmapu merasakan apa yang Anda rasakan ketika Anda berbuat atau mengalami peristiwa tertentu, itu artinya saya berempati terhadap Anda

Lawan dari simpati adalah antipati, yakni perasaan ketidaksenangan terhadap orang lain yang dapat berujud kebencian. Padahal kebencian memicu permusuhan. Permusuhan memicu kekerasan. Untuk mencegah kekerasan, yang perlu dibangun adalah sikap empati, dan bukan antipati.

Keempat, optimis dan apatis. Hidup ini penuh tantangan, dan tidak semua orang mampu bertahan dengan tantangan tersebut. Ada orang yang menyerah sebelum berjuang. Orang seperti ini diliputi dengan sikap pesimis dan apatis dalam memandang sesuatu. Sebaliknya, ada pula orang yang over-estimate dalam menghadapi suatu masalah. Orang ini selalu merasa yakin dapat mengatasi masalah, meskipun tanpa bantuan orang lain. Orang seperti ini dikatakan optimistik dalam memandang sesuatu.

Sebagai contoh, Mala, seorang gadis kelas VI Madrasah Ibtidaiyah di salah satu desa, misalnya merasa ragu apakah ia akan lulus ujian atau tidak, meski ia sudah mengikuti les privat, rajin belajar di rumah serta tidak pernah absen sekolah. Saat ia ragu, mala dihinggapi oleh rasa over-pessimistic tentang prestasinya dalam ujian nanti. Langsung atau tidak, sikap Mala tersebut akan mempengaruhi prestasinya.

Contoh sebaliknya, Jakfar, misalnya, seorang siswa kelas V di Madrasah Ibtidaiyah yang sama. Tanpa les atau rajin belajar di rumah dan sekolah, ia merasa yakin akan naik kelas. Dalam hal ini, Jakfar dihinggapi rasa over-optimistic terhadap ujian yang akan ditempuh. Baik over-pessimistic maupun over-optimistic keduanya berisiko. Over-pessimistic menimbulkan orang menyerah sebelum bertanding dan bersikap apatis, sedang over-optimistic akan mengakibatkan frustasi apabila kalkulasi keberhasialannya ternyata tidak tercapai dan bisa jadi mengalami trauma bila ia menghadapi persoalan serupa.

Over-pessimistic dan over-optimistic merupakan gangguan jiwa yang dapat diatasi dengan bimbingan dan pembiasan. Orang tua di rumah atau guru di sekolah perlu memberi motivasi kepada anak yang over-pessimistic, agar anak itu bisa berpandangan bahwa upaya yang telah dilakukannya bukanlah hal yang sia-sia. Begitu pula halnya dengan orang yang over-optimistic bisa dibimbing untuk bersikap realistis dalam menghadapi sesuatu.

Pada dasarnya tujuan mengatasi sesuatu itu adalah untuk mencapai keberhasilan. Orang yang over-pessimistic bila berhasil meraih sesuatu, besar kemungkinan ia akan berlebihan dalam merayakan keberhasilannya. Sebaliknya orang yang over-optimistic, bila berhasil terhadap sesuatu, akan bersikap biasa-biasa saja. Tatkala orang yang sama-sama berhasil tadi berkumpul di satu tempat untuk merayakan kesuksesannya, maka luapan emosi kegembiraannya sulit dibendung. Ini misalnya dapat dilihat pada segerombolan pelajar SMU yang berarak-arakan mengelilingi kota sambil mencorat-coret seragam putih abu-abunya dengan spidol atau spray paint setelah pengumuman kelulusannya. Peristiwa kelulusan adalah hal lumrah dalam sebuah ujian. Akan tetapi bila orang yang overjoy tersebut berkumpul dan menimbulkan gerakan massal, dan ada faktor pemicu, maka perilaku ini dapat berpotensi menggerakkan massa tersebut mengarah kepada perilaku kekerasan kolektif.

Kelima, bahasa cinta. Pendidikan damai dapat menanamkan rasa saling kasih dan cinta antar sesama, tidak peduli apakah ia berkulit hitam atau putih, kaya atau miskin, penduduk atau pendatang, warga negara lokal atau asing. Dengan sentuhan bahasa cinta antar sesama, semuanya bisa duduk bersebelahan dalam satu ruang kelas. Dalam hal ini, guru tidak sekedar mengajar namun juga sebagai orang tua kedua ketika anak-anak berada di sekolah. Begitu pula orang tua di rumah, menjadi guru yang kedua bagi putra-putrinya. Yang berlangsung kemudian adalah sentuhan cinta dibarengi dengan semangat mendidik, atau mendidik dilakukan dengan penuh kasih sayang.

Pendidikan damai menumbuhkan cinta pada sesama, cinta lingkungan, dan cinta alam semesta. Cinta pada sesama menghindarkan konflik dan permusuhan, mencegah kekerasan dan perang. Cinta lingkungan menumbuhkan sikap melestarikan dan merawat lingkungan agar tetap bersih dan asri. Cinta pada alam semesta menjadikan anak tidak merusak alam bahkan menjaganya dari kepunahan. Itulah sebabnya pendidikan damai memberikan materi kesadaran pribadi, toleransi, kepedulian dengan sesama dan cinta ini untuk memupuk budaya damai dalam sikap dan perilaku.

Keenam, bersikap adil. Ketidakadilan merupakan bentuk kekerasan institusional (intitutional violence), seperti halnya kemiskinan, rasialis, pelecehan seksual, serta bentuk repressive lainnya. Kekerasan institusional muncul sebagai akibat kebijakan pihak-pihak tertentu (biasanya lembaga yang berwenang) dalam memutuskan perkara. Kebijakan tidak adil yang dirasakan oleh seorang korban dapat diluapkan dengan kekesalan, kekecewaan atau ketidakpuasan. Bila ketidakadilan dirasakan oleh banyak orang, hal ini akan memicu gerakan massa untuk menuntut keadilan, seperti unjuk rasa, protes dan aksi demonstrasi. Unjuk rasa buruh pabrik menuntut kenaikan gaju atau tunjangan, protes mahasiswa menolak kenaikan biaya kuliah, atau akasi demonstrasi para aktivis penentang perang, bermula dari kebijakan yang kurang transparan dan kurang adil ini. Aksi massal menuntut keadilan atas kebijakan tertentu sewaktu-waktu bisa berubah menjadi overt violence atau kekerasan terbuka bila ada faktor pemicu yang mendorong massa menjadi bringas dan anarki. Misalnya suara tembakan atau pukulan yang mengenai salah satu peserta aksi. Hal ini dapat memanaskan situasi dan menggiring massa pada kekerasan kolektif.

Mencegah kekerasan kolektif bukanlah hal mudah mengingat pihak yang bertikai belum tentu sepakat dengan tuntutan yang diajukan. Pengusaha yang memiliki pabrik tidak serta merta menerima tuntutan pegawainya untuk kenaikan gaji karena alasan yang masuk akal. Demikian pula pihak rektorat bisa bertahan tetap menaikkan biaya kuliah mahasiswa dengan alasan yang profesionalitas. Begitu pula dengan kebijakan pemerintah untuk perang melawan para teroris atau separatis, dilakukan demi rust and order atau mencegah kerusuhan dan menjaga ketertiban. Dalm hal ini, yang perlu dilakukan adalah barganing position antara kedua belah pihak, sehingga keputusan yang diambil merupakan kompromi kedua belah pihak yang dapat mencegah aksi-aksi kekerasan.

Ketidakadilan sebagai kekerasan institusional dapat mengakibatkan munculnya kekerasan tandingan (counter-violence), seperti aksi teror, sabotase, mogok massal, bahkan tindakan anarkis lainnya. Kebijakan yang tidak adil berpotensi menimbulkan kekerasan (violence as potensial). Sepanjang tidak ada perubahan kebijakan, ketidakadilan akan memicu kekerasan demi kekerasan. Di sinilah letak mahalnya perdamaian, karena perdamaian mensyaratkan kebijakan yang adil.

c. Demokratisasi pendidikan

Inti dari demokrasi adalah kebebasan, persamaan hak, keadilan musyawarah dan tanggung jawab. Pada mulanya demokrasi merupakan term politik. Perlawanan terhadap kolonialisme, misalnya merupakan perjuangan mewujudkan demokrasi. Demos  artinya rakyat, sedang kratos berarti kekuasaan. Jadi demokrasi berarti kekuasaan rakyat, kedaulatan rakyat atau, dalam term politik berarti pemerintahan yang dijalankan dari, oleh, dan untuk rakyat. Bentuk pemerintahan demokratis tercermin dari proses pemerintahannya yang dilakukan melalui pemilihan umum dengan karakter demokrasi di atas yakni kebebasan, persamaan hak, keadilan, musyawarah, dan tanggungjawab.

Akan tetapi demokrasi tidak hanya berada pada wilayah politik, melainkan juga sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, bahkan agama. Demokratisasi pendidikan merupakan proses pembelajaran seluruh civitas akademika untuk memajukan pendidikan. Kalau dalam politik ada rakyat, maka dalam pendidikan ada peserta didik. Pendidikan yang demokratis berarti melibatkan murid secara aktif dalam seluruh proses pendidikannya (student-centered-student active learning). Bukan sebaliknya, berpola top-down, yakni berpusat pada guru teacher-centered) sehingga murid berperan sebagai objek didik, atau sebagaimana dikatakan oleh Paulo Freire dengan istilah banking system education atau pendidikan gaya bank, dimana  murid diibaratkan seperti celengan yang siap diberi koin.

Pendidikan yang demokratis menerapkan sistem andragogi. Sistem ini menuntut keaktifan siswa untuk berbuat (learning by doing). Di sini murid diberi umpan dan kail, kemudian dibimbing untuk mencari ikan sendiri. Jadi bukan langsung diberi ikan tanpa proses pemancingan. Proses pendidikan yang menekankan pentingnya nilai-nilai kebebasan dan demokrasi inilah yang menjadikan pendidikan bernuansa humanis. Perlakuannya menggunakan pendekatan humanistik.

Kebebasan menimbulkan kreativitas. Kreativitas merupakan proses mental dan kemampuan tertentu untuk “mencipta”. Kreativitas adalah proses pemikiran terhadap sesuatu masalah yang darinya dapat dihasilkan gagasan baru yang sebelumnya tak terpikirkan. Kreativitas juga berarti sebagai proses interaktif antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang kreatif dapat terlihat dari kemampuannya mengatasi masalah (problem sensitivity), mampu menciptakan ide alternatif untuk memecahkan masalah (idea fluency), mampu memindahkan ide dari satu pola pikir ke pola pikir yang lain (idea flexibility). Orang yang kreatif pun dapat dilihat dari kemampuannya untuk menciptakan ide yang asli (idea originality). Seluruh kemampuan pengembangan ide dan sensitivitas terhadap persoalan yang merupakan ciri kreatif tersebut tak dapat terbentuk bilamana dalam diri seseorang terjadi tekanan dan pembatasan atas kebebasannya.

Ilustrasi berikut ini dapat memberikan gambaran kebebasan sedang berproses dalam pendidikan. Ina yang duduk di bangku TK memasuki kelas, kemudian oleh Ibu guru, ia diberi secarik kertas bergambar bunga tanpa warna. Kemudian sang Ibu guru memberi tugas seraya membiarkan Ina dan teman-temannya untuk mewarnai dan memberi motif pada gambar bunga tadi. Ibu guru sesungguhnya telah menerapkan kebebasan dalam proses belajar. Ina mungkin lebih senang dengan warna pink, berbeda dengan temannya, Icha yang menyukai warna kuning. Kebebasan dalam pendidikan menyebabkan anak belajar untuk menjadi dirinya sendiri, learning to be. Bila dalam satu bunga, Ina memberi bermacam warna, itu bukan salah Ina melainkan itulah wujud kreativitas, memberi berbagai alternatif ide dan imajinasi dalam mewarnai bunga.

Akan tetapi, harus dikatakan pula bahwa kebebasan itu bukan tanpa aturan. Kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Biarkan Ina mewarnai gambar bunga menurut kreativitasnya sendiri, asalkan yang diwarnainya adalah kertas dan gambar miliknya, bukan kertas dan gambar milik orang lain. Kalau Ina mengambil kertas dan gambar anak lain itu berarti Ina telah membatasi hak orang lain untuk bebas mewarnai gambar pada kertasnya sendiri. Perilaku Ina tersebut tentulah tidak identik dengan kebebasan. Maka, dalam kebebasan terdapat pengakuan atas hak diri sendiri dan hak orang lain, sama seperti dirinya. Dalam kebebasan terdapat keseimbangan antara hak dan kewajiban. Di titik inilah berlangsung keterpautan antara kebebasan dengan demokrasi.

 

Hak Anak dalam pendidikan Islam

 

Dalam filosofi pendidikan Islam dikenal dua hal. Pertama adalah  bashira wa nadlira, bahwa mendidik anak seharusnya tidak hanya dilakukan melalui interaksi  secara langsung  tetapi juga harus dilihat secara batin, hal tersebut mempunyai makna bahwa usaha untuk mendidik anak tidak hanya dapat dilakukan secara lahiriyah seperti menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhannya, tetapi juga dilakukan secara bathin misalnya melalui doa bagi mereka.

Kedua adalah konsep fa alhamaha fujuraha wa taqwaha.  Falsafah ini  mempunyai implikasi dalam pendidikan bahwa manusia pada dasarnya disamping memiliki fitrah yang baik juga mempunyai fitrah yang buruk. Agar fitrah yang buruk tersebut tidak berkembang, maka dibutuhkan proses pendidikan agar fitrah yang baik berkembang dengan baik. Dengan demikian proses pendidikan tersebut harus benar-benar berlandaskan pada tujuan pendidikan yang paling mendasar yaitu pendidikan untuk memanusiakan manusia.

Ketiga adalah konsep rahmah atau kasih sayang, Al-jurajani menyatakan bahwa al rahma hiya iradatu isholu al-khair, artinya kasih sayang adalah segala sesuatu perbuatan yang akan mendatangkan kebaikan. Dengan memberikan kasih sayang maka pada dasarnya seseorang telah mengadakan pendekatan psikologis dalam mendidik anak, karena dengan pendekatan ini anak akan merasa terlindungi dan tenang, dengan demikian anak akan berada pada sebuah kehidupan yang nyaman tanpa ada intimadasi, kekerasan dan lain sebagainya. Sebagai hasilnya anak dapat hidup dan tumbuh kembang  di tengah masyarakatnya dengan karakter anak yang kreatif, dan mempunyai sikap self convidance yang tinggi.

Lantas bagaimana pandangan Islam dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan empat prinsip sebagaimana dalam CRC yang telah disebut di atas?.

Hak Hidup, Keberlangsungan  Tumbuh Kembang

Dalam pandangan Islam, bahwa hidup adalah pemberian Allah, sebagaimana dikatakan dalam firmannya: Dan sesungguhnya benar-benar Kamilah yang menghidupkan dan mematikan dan Kamilah (pulalah) yang mewarisi (QS. Al-Hijr:23). Ini berarti, bahwa hak hidup, keberlangsungan dan hak perkembangan  melekat pada setiap diri anak, dan  mutlak adanya sebagai dasar untuk memberikan pemenuhan dan perlindungan atas kehidupan mereka. Tidaklah mengherankan apabila Allah SWT mengecam keras orang-orang yang tidak menghargai hak asasi manusia, misalnya melakukan pembunuhan lebih-lebih  pada anak seperti sampai sekarang masih banyak terjadi diberbagai belahan dunia dimana Islam telah menentangnya sejak zaman jahiliyyah. Allah berfirman: Barang siapa yang membunuh jiwa seorang manusia bukan karena pembunuhan dan bukan pula kerana membuat kerusakan di bumi, maka ia seakan membunuh manusia seluruhnya, dan barang siapa menyelamatkan jiwa seorang manusia sekan ia menyelamatkan manusia seluruhnya (QS. Al-Maidah:32).                                                                               

Anak adalah anugerah dan amanah Allah SWT sebagaimana telah dijelaskan di muka. Anak merupakan kekayaan bagi keluarga dan bangsa, yang memiliki fungsi strategis sebagai pemilik dan penerus generasi di masa yang akan datang. Sebagai pengejawantahan rasa syukur pada Allah SWT, maka hak-hak anak untuk kelangsungan dan perkembangan hidupnya baik secara fisik maupun mental harus di penuhi. Hak kelangsungan hidup anak dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan kasih sayang pada anak, memenuhi kebutuhan hak dasar anak.

Kebutuhan alami seorang anak adalah mendapatkan kasih sayang terutama dari orangtuanya sendiri  khususnya ibu. Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang menghalanginya untuk memberikan kasih sayang dan perlindungan kepada anaknya. Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah termasuk golongan kami, orang-orang yang tidak mengasihi anak kecil di antara kami dan tidak  mengetahui hak orang besar di antara kami (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

 

Selain yang tersebut diatas, memenuhi kebutuhan dasar anak demi keberlangsungan dan perkembangan anak, diantaranya adalah kebutuhan sandang, papan dan  pangan. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an: Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada para ibu (dan anaknya) dengan cara yang ma’ruf (QS.Al-baqarah:233).

 Menjamin Perkembangan Anak dapat dilakukan dengan cara mendidik anak.Dengan pendidikan anak dapat berkembang secara sempurna baik pemikiran, maupun sikap dan perilakunya. Pendidikan yang diberikan kepada anak merupakan pendidikan yang bersifat komprehensif, yaitu pendidikan yang diarahkan untuk pengembangan kemampuan intelektual, mental dan spritual. Nabi memerintahkan  para orangtua untuk mendidik anak-anaknya sebagaimana disebutkan dalam Hadist: Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anak kamu dan keluarga kamu dan didiklah mereka (HR.Abdur Razzaq dan Sa’id bin Mansur).

Non-Diskriminasi

         Prinsip non-diskriminasi (non-discrimination) dalam pendidikan anak  adalah perlakuan yang tidak membeda-bedakan  dalam  penyelenggaraan pendidikan anak atas dasar  perbedaan asal-usul, suku, agama, ras, jenis kelamin dan status sosial lainnya. Prinsip ini didasarkan pada pandangan   kefitrahan anak, bahwa pada hakekatnya anak dilahirkan sama hak asasinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Perbedaan tersebut terjadi semata-mata karena konstruk sosial masyarakat yang mewarnai perjalanan dan perkembangan anak.

         Misalnya, pada zaman jahiliyah, anak perempuan tidak diterima sepenuh hati oleh masyarakat secara umum. Al-Qur’an merekam pandangan dan praktek jahiliyah mulai dari yang paling ringan yaitu bermuka masam jika disampaikan berita kelahiran anak perempuan,2 sampai kepada yang paling parah yaitu membunuh bayi-bayi perempuan.3 Terhadap hal ini Al-Qur’an mengecam keras. Kecaman-kecaman itu antara lain dimaksudkan untuk mengantar mereka agar menyadari bahwa kedua jenis kelamin anak masing-masing memiliki keistimewaan4 dan tidaklah yang satu lebih utama dari yang lain.5

         Islam sangat  tegas dan konsisten dalam menerapkan prinsip non-diskriminasi  dalam penyelenggaraan pendidikan anak yang ditandai dengan seruan untuk berlaku adil pada anak. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan umat manusia untuk berbuat adil terhadap anak-anak: Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…(Qs. Al-Maidah:8).Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:“…..Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil…. (QS. An-Nisa’:127).

Perintah untuk berlaku adil dan tidak membeda-bedakan anak atas jenis kelaminnya juga di jelaskan dalam beberapa hadist, diantaranya:”Berbuat adillah diantara anak-anakmu, berbuat adillah diantara anak-anakmu, berbuat adillah diantara anak-anakmu” (HR. Ashabus Sunan, Imam Ahmad dan Ibnu Hibban). Perintah Rasulullah SAW kepada para orangtua untuk berbuat adil terhadap anak-anaknya dilakukan dalam semua pemberian, baik berupa pemberian harta (materi) maupun kasih sayang (immateri). Berikut perintah Nabi Muhammad SAW agar orangtua berbuat adil dalam hal pemberian  (materi) terhadap anak-anaknya. Rasulullah SAW bersabda: Samakanlah diantara anak-anak kalian di dalam pemberian (HR.Thabrani).

Dalam hal pemberian kasih sayang (immateri), Nabi Muhammad SAW  juga sangat menganjurkan kepada orangtua agar berlaku adil sebagaimana diriwayatkan oleh Anas, bahwa seorang laki-laki berada disisi Rasulullah SAW kemudian datanglah seorang anak laki-lakinya, lalu ia mencium dan mendudukkannya diatas pangkuannya. Setelah itu datanglah puterinya, tidak dipangku sebagaimana anak laki-lakinya, hanya  didudukkan di depan Rasulullah SAW. Atas peristiwa itu Rasulullah SAW  bersabda: Mengapa engkau tidak menyamakan  keduanya?

Hadist ini menunjukkan bahwa perbuatan non-diskriminatif yang harus ditunjukkan oleh orang tua terhadap anak adalah adil secara keseluruhan. Perbuatan adil harus ditunjukkan dalam bentuk pemberian yang dapat dilihat oleh mata atau pemberian yang tidak dapat dilihat oleh mata seperti perwujudan kasih sayang. Apabila di dalam masyarakat muslim masih terdapat orangtua yang memandang anak wanita lebih rendah daripada  anak laki, maka hal ini tentu disebabkan oleh lemahnya iman dan rapuhnya keyakinan. Disamping itu juga disebabkan oleh lingkungan sosial yang rusak yang diserap dari kebiasaan jahiliyah atau tradisi sosial tercela. Dalam hubungan ini   Allah  SWT berfirman:

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehianaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketauhilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu (QS. AN-Nahl: 58-59).

Perlakuan  diskriminatif terhadap anak dapat menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan kejiwaannya, yaitu munculnya penyakit kejiwaan seperti rendah diri dan hasud. Jika perlakuan tersebut berlangsung terus menerus membuat anak agresif, misalnya suka bertengkar, melukai, bahkan membunuh. Peristiwa pembunuhan Yusuf  oleh saudaranya sendiri  dapat  dijadikan contoh itu. Dalam peristiwa ini disebutkan bahwa  Bunyamin dan saudara-saudara yang lainnya makar pada Yusuf, yaitu memasukkan Yusuf ke dalam Sumur semata-mata karena saudara -saudaranya mengalami perlakuan diskriminatif dari  ayahnya, Nabi Ya’kub sebagaimana diabadikan  dalam al-Qur’an: (Yaitu) ketika mereka berkata: “sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata (QS. Yusuf:8).

Belajar dari pengalaman tersebut dapatlah dikatakan bahwa  para orang tua, wali atau siapa saja yang diberi mandat untuk memelihara dan mendidik anak wajib menerapkan prinsip non-diskriminasi dan persamaan didalam pemberian, kecintaan, perlakuan kasih sayang kepada anak-anak, tanpa membeda-bedakan antara yang satu dengan lainnya, antara pria dan wanita. Oleh karena itu  dalam pandangan legislasi  ditandaskan bahwa perilaku diskriminatif terhadap anak merupakan tindakan tidak saja bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi  merupakan  pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Tentu pasti, bahwa orang tua, masyarakat, pemerintah dan negara sebagai penyelenggara perlindungan anak  memiliki tanggungjawab dan kewajiban untuk tidak berlaku diskriminatif dalam bentuk apapun.

Kepentingan Terbaik Bagi Anak (the Best Interests of  the Child)

Prinsip kepentingan terbaik bagi anak berarti  semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh orangtua, keluarga, masyarakat pemerintah, dan negara, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama. Dalam sejarah Islam, baik pada masa Rasulullah   maupun Khulafaurrasyidin terdapat banyak peristiwa yang menggambarkan kepemihakan Islam terhadap kepentingan terbaik anak, baik dalam keadaan  ibadah maupun dalam hukum dan kegiatan sosial kemasyarakatan termasuk dalam pendidikan.

Prinsip kepentingan terbaik bagi anak dalam Islam  dapat dilihat dalam ibadah dan hukum.  Prinsip tersebut dalam ibadadapat digambarkan  ketika Nabi membiarkan cucunya menunggangi dirinya saat menjadi imam shalat, dan ketika  menolong cucunya yang jatuh saat ia menjadi khatib Jum’at, sebagaimana diabdikan dh alam Hadits  yang diriwayatkan oleh Tirmidzi  dari Abdullah bin Buraidah. Dalam Hadist lainnya, Nasa’i dan Hakim meriwayatkan, “Ketika Rasulullah SAW Shalat mengimami para makmum, tiba-tiba datanglah Husain, dan langsung menunggangi pundak Rasulullah SAW ketika beliau sujud sehingga beliau memperpanjang sujudnya, sampai-sampai para makmum mengira terjadi sesuatu. Setelah shalat selesai berkatalah mereka, “Engkau telah memanjangkan sujud, wahai Rasulullah, hingga kami mengira telah terjadi sesuatu.” Rasululllah SAW menjawab, “Anakku (cucuku) telah menjadikan aku sebagai tunggangan, maka aku tidak suka mengganggu kesenangannya hingga ia puas,”. Dalam Shahibain, dari Anas r.a. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya, ketika aku melakukan shalat (menjadi imam) dan aku bermaksud untuk memanjangkan bacaannya, tiba-tiba aku mendengar tangisan anak kecil. Maka aku segera memperpendek (bacaan) shalatku. Karena aku memahami perasaan ibunya (yang menjadi makmum) yang tentu terganggu oleh tangisannya.

  Prinsip kepentingan terbaik bagi anak dalam peristiwa hukum dapat digambarkan dalam kasus wanita Al-Ghamidiyah. Ia datang pada Nabi bahwa dirinya hamil dari hasil zina. Nabi berkata “pulanglah sampai engkau melahirkan”. Ketika ia telah melahirkan, ia datang lagi kepada Nabi dengan membawa bayinya. Nabi berkata” Pergilah, kemudian susuilah anakmu itu sampai engkau menyapihnya”. Setelah selesai disapih, ia datang lagi kepada Nabi bersama bayi, maka Nabi menyerahkan bayi itu kepada laki-laki muslim. Setelah itu wanita tersebut dirajam (HR. Muslim).

Contoh tersebut  menunjukkan bahwa betapa Nabi mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak. Pada contoh yang pertama dapat dipahami bahwa perbuatan ibadah sekalipun tidak boleh mengalahkan kepentingan terbaik bagi anak. Pada contoh kedua memberi gambaran penegakan hukum harus tetap dilaksanakan dengan tidak menafikan kepentingan terbaik bagi anak dengan cara memberi kesempatan pada si ibu memberikan hak yang layak bagi si anak, yaitu hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara wajar didalam kandungan, hak dilahirkan dan hak mendapatkan ASI (Air Susu Ibu). Meskipun si ibu melakukan perbuatan yang melanggar hukum,  anak yang sedang dikandungnya tidak boleh dirugikan karena perbuatan salah sang ibu.

Dalam Hadist Rasulullah lainnya berbunyi: "Sesungguhnya Allah memberikan keringanan dalam melaksanakan shalat bagi orang yang bepergian, dan puasa bagi orang yang bepergian, wanita menyusui dan wanita hamil." (Hadits riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa'i). Pemberian keringanan puasa terhadap ibu yang sedang hamil dan menyusui tidak lain dimaksudkan untuk menjaga anak yang sedang dikandungnya. Namun demikian,  si ibu berkewajiban menggantikan puasa wajib yang sudah ditinggalkannya di lain hari setelah anaknya lahir. Kebijakan agama Islam ini menunjukkan bahwa betapa Allah sangat memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak.

Penerapan prinsip mendahulukan kepentingan terbaik bagi anak juga terlihat dalam pemecahan kasus harta anak pada masa Khalifah Abu bakar. Dalam riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah berkata: bahwa pada suatu ketika ada seorang laki-laki menemui Abu Bakar dan berkata bahwa “ Ayahku mengambil seluruh hartaku untuk keperluannya dan tidak menyisakan sedikitpun”. Abu Bakar berkata, bahwa “ bahwa harta anakmu itu tidak boleh digunakan seluruhnya” Ayah laki-laki berargumen, bahwa Rasulullah bersabda, bahwa “ kamu dan hartamu adalah milik orang tuamu” Abu bakar menjawab,”ya betul, akan tetapi yang dimaksud adalah nafkah yang wajib.” (HR. Ibnu Majah).

Hadits tersebut di atas menunjukkan bahwa meskipun ketaatan dan pengabdian seorang anak adalah sentral dan kunci yang harus dipegang oleh seorang Muslim, akan tetapi kewajiban pengabdian tersebut tidak boleh sampai merugikan hak-hak anak itu sendiri. Hal ini membuktikan kalau Islam tetap mempertimbangkan azaz kepentingan terbaik bagi anak dalam setiap kesempatan. Seperti disebutkan dalam Mu’jam Al-Mughni tulisan Ibn Qudamah, bahwa pemanfaatan harta anak oleh orang tua harus memenuhi kriteria sebagai berikut: tidak memberatkan dan tidak membahayakan si anak dan tidak mengambil sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh si anak tersebut; dan  harta dimaksud tidak diberikan pada orang lain (Saqr, 2002).

Penghargaan Terhadap Pendapat Anak
Penghargaan terhadap pendapat anak (respect for the views of the child), bahwa dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupan anak maka pendapat anak wajib dihormati dan dikembangkan.[12] Prinsip ini harus diperhatikan betul oleh segenap penyelenggara perlindungan anak baik oleh orangtua, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Hal ini tidak lain karena anak merupakan pelaksana dari keputusan yang akan diambil dan orang pertama yang akan merasakan dampak dari setiap pengambilan keputusan. Asumsinya anak lebih mengerti akan kebutuhan dan kemampuan dirinya. Muncul pertanyaan,  bagaimana dengan anak yang belum mampu untuk mengambil keputusan sendiri?. Dalam hal ini orang tua mempunyai kewajiban untuk memberikan pemahaman dan penjelasan kepada anak akan keputusan yang diambilnya dengan bahasa yang dimengerti oleh anak, dengan semua dampaknya baik negatif dan positif. Setelah itu keputusan terakhir berada di tangan anak.

Dalam Islam, sikap menghargai pendapat anak telah diajarkan dan bahkan telah dipraktekkan pula oleh Rasulullah SAW sebagaimana terlihat dalam sebuah Hadist  yang diriwayatkan oleh Sahal bin Sa’ad r.a.:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرَبَ مِنْهُ، وَ عَنْ يَمْنِهِ عَلاَمٌ،

 وَ عَنْ يَسَارِهِ أَشْيَاخٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لِلْغُلاَمِ، أَتَأْذُلِيْ أَنْ أُعْطِيَ هَؤُلآءِ

“Rasulullah SAW diberi minuman, dan beliau minum sebagian. Di sebelah kanannya duduk seorang anak, dan di sebelah kirinya beberapa orangtua. Rasulullah SAW bersabda kepada anak itu,”Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi kepada mereka?.Maka anak itu menjawab,”Tidak, demi Allah. Bagianku yang diberikan oleh engkau tidak akan saya berikan kepada siapa pun.” Maka Rasulullah SAW meletakkan minuman ditangan anak itu. Dan dia adalah Abdullah bin Abbas”(Bukhari dan Muslim).

Apa yang digambarkan dalam riwayat tersebut menunjukkan bahwa dalam ajaran Islam, pendapat anak sangat dihormati dan dihargai. Dan bahkan anak selalu dimotivasi untuk berani untuk mengemukakan pendapat. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab dalam suatu majelis pertemuan. Umar bertanya pada mereka: “Apa yang saudara ketahui tentang sebab turunnya surat Al-Baqarah ayat 266” Mereka menjawab “Allah yang lebih tahu”, Lalu Umar marah dan terus mendorong agar diantara mereka ada yang menjawabnya  secara logis. Lalu, salah satu dari sekian anak-anak, yaitu Ibn Abbas menjawab bahwa ayat itu menggambarkan seorang kaya yang beramal namun tidak memperoleh pahala dari Allah karena setelah itu mereka berbuat maksiat (HR. Bukhari Muslim).

Dalam Hadist yang lain, Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa: Umar r.a. pada masa kekhalifahannya mengundang aku -yang ketika itu  belum mencapai usia dewasa- bersama pembesar-pembesar perang Badar ke forum musyawarah. Dalam pertemuan itu terjadi diskusi mengenai makna firman Allah tentang ”kemenangan” yang tercantun dalam  Surat Al-Nashr. Sebagian mereka berpendapat bahwa itu mengandung maksud perintah untuk memuji dan meminta ampunan Allah. Sedangkan yang lain diam, kemudian Ibnu Abbas menyampaikan pendapatnya bahwa itu adalah tanda ajal Rasulullah. Lantas, Umar berkomentar bahwa pendapat Abbas adalah baru dan ia belum pernah mendengar sebelumnya. Dalam diskusi yang lain, yaitu soal kurma, Abdullah bin Umar yang  ketika itu belum dewasa dan  tidak menyampaikan pendapat  padahal  pikirannya  sama dengan pendapat Rasulullah. Untuk itu Umar berkata Abdullah:

 

تَكُوْنُ قُلْتَهَا أَجَرَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَكُوْنُ لِى حُمُرٌ التَّعَمِ 

                                

... seandainya kamu berkata akan lebih aku sukai daripada aku mempunyai beberapa unta hamil (Saqr, 2002).

 

Ini menunjukkan bagi kita bahwa Islam sangat menghargai pendapat anak, walaupun dalam forum orang dewasa.  Hadist dan beberapa riwayat diatas memberikan teladan bagaimana orang-orang shaleh dulu mendidik anak-anak untuk bersikap berani mengemukakan pendapat, tidak penakut dan bergantung kepada orang lain. Untuk itu perlu membiasakan anak untuk bersikap berani,  ikut menemani orangtuanya menghadiri majelis umum, di dorong untuk berani berbicara di depan orang-orang besar, kalau perlu  diajak bermusyawarah untuk memecahkan problema umum dan masalah ilmiah di berbagai forum.

Latihan keberanian menyampaikan pendapatnya  dalam satu forum amat penting artinya agar  anak kelak tidak minder dan penakut. Seluruh sikap berani untuk mengemukakan pendapat  dapat menanamkan dan menumbuhkan pemahaman dan kesadaran yang sangat teruji di dalam jiwa anak-anak, serta mendorong mereka untuk mencapai kesempurnaan dan membentuk kepribadian, kematangan berpikir dan solidaritas sosial. Oleh karena itu, para orangtua sangat dianjurkan untuk menerapkan prinsip ini, supaya anak tumbuh dan terdidik diatas keterbukaan yang sempurna, keberanian dengan batas-batas kesopanan, kehormatan, toleransi, dan mandiri.[13]

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan perlindungan anak dalam Islam, mempunyai titik singgung dan kesamaan dengan penyelenggaraan perlindungan anak yang terdapat dalam Konvensi Hak Anak (KHA) dan Undang Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Bahkan prinsip-prinsip penyelenggaraan anak dalam Islam cukup komprehensif karena prinsip-prinsip penyelenggaraan perlindungan anak dalam Islam bukan hanya memberikan konsep belaka akan tetapi juga berupa contoh konkrit dalam kehidupan Rasulullah, para Khalifah serta para penerusnya yaitu orang-orang shaleh sesudahnya.  

 

Penutup

Ketika keadilan, kejujuran, transparansi, demokrasi dan pembinaan kualitas emosi positif disepelekan, maka konsekuensi terjadinya kekerasan dan pelanggaran Hak Anak dalam pendidikan sulit dihindari. Sekarang, seorang guru tidak lagi patut mengajar sambil membawa rotan untuk menenangkan suasana kelas. Atau menghukum murid dengan hukuman fisik di luar kapasitas fisik anak hanya karena tidak mengerjakan PR.. Sebab hal itu berarti melanggengkan bentuk-bentuk kekerasan, yang suatu saat bila si murid menjadi guru, akan meniru perlakuan si guru tadi. Seimbang dengan itu, seorang murid dilarang melecehkan martabat dan nama baik guru atau lembaga pendidikan, hanya karena alasan kebijakan tertentu. Yang perlu dilakukan oleh kedua belah pihak, guru-murid, adalah komunikasi dialogis dan interaksi humanistik. Maka, agar tidak terjadi prilaku kekerasan harus dilakukan berbagai langkah kongkrit.

Konsepsi pendidikan tanpa kekerasan dan tanpa pelanggaran Hak Anak, kiranya tidak berhenti sebatas wawasan, melainkan perlu diteruskan dengan gerakan pembaharuan pendidikan nasional, institusionalisasi, bahkan imperative action,  yang dimotori oleh para pelaku pendidikan, lembaga pendidikan, guru-murid, komite pendidikan, dewan sekolah, pemerintah (policy makers)  serta para stakeholders lain yang terkait dengan keseluruhan proses pendidikan. Langkah kongkrit menerapkan pendidikan tanpa kekerasan ini mendesak untuk dilakukan, agar bangsa yang multi-etnis, multi agama, bahasa, ras, jenis kelamin, keturunan, status sosial dan bentuk-bentuk kemajemukan lainnya ini, dapat menerapkan learning to live together,  dan duduk berdampingan saling menghargai perbedaan, rukun, serta saling bergandengan tangan menuju perdamaian dan kemakmuran bersama.



[1] Nur Hidayati, dkk. 2007. Memperkecil Kekerasan Terhadap anak-anak di Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Departemen Agama. 24.

[2] Lihat Office of the High Commisioner for Human Rights, Convention on the Eliminationof all Forms of Discrmination againts Women, (Geneva: OHCHR, 1979), h. 1-12. Hasil konvensi ini ditandatangani dan diratifikasi oleh resolusi Sidang Umum PBB No. 34 /180 tertanggal 18 Desember 1979, dan diberlakukan sejak 3 September 1981. Hasil konvensi ini memuat 30 pasal yang sebagian besar berisikan perlindungan bagi hak-hak kaum perempuan.

[3] Lihat Office of The High Commissioner for Human Rights. Declaration on the Elimination or All Form of Intolerance and of Discrmination Based on Religion or Belief, (Geneva: OHCHR)

[4] KHA pasal 2 ayat (1).

[5] KHA pasal 3 ayat 1. Pasal-pasal lain dari KHA yang memuat tentang adanya prinsip kepentingan terbaik bagi anak dalam penyelenggaraan perlindungan anak adalah : Pasal 9 (1) dan (3) mengenai pemisahan anak terhadap orang tuanya; Pasal 18 mengenai tanggung jawab orang tua; Pasal 20 mengenai anak yang kehilangan lingkungan keluarganya, baik secara tetap maupun sementara; Pasal 21 mengenai adopsi; Pasal 37 ( c ) mengenai pembatasan dan kebebasan; Pasal 40 (2) mengenai jaminan terhadap anak yang dituduh melanggar hukum pidana.

[6] UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 2

[7] KHA pasal 6. Pasal-pasal lain dari KHA yang memuat tentang Hak Hidup, Kelangsungan Hidup dan Perkembangan adalah pasal 27 tentang Perkembangan fisik; Pasal 28 dan 29 tentang  pendidikan; Pasal 23 tentang Pendidikan bagi anak-anak cacat; Pasal 14 tentang Perkembangan moral dan spiritual anak; Pasal 17 tentang hak memperoleh informasi; Pasal 30 dan 31 tentang perkembangan anak secara budaya.

[8] KHA pasal 12 (1).

[9] Bobbi DePorter, dkk., Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas, (Bandung : Kaifa, 1999), h. 19 dan 25

[10] Daniel Goleman, Emotional Intelligence, (New York Bantam, 1995), h 97. lihat juga Jeanne. Seagai, “Raising Your Emotional Intelligence” dalam Ary Nilandari (terj.), Melejitkan Kepekaan Emosional, (Bandung: Kaifa, 1997), h. 138

[11] Ibid., h. 140-141.

2 QS. An-Nahl : 58

3 QS. At-Takwir : 9

4 QS. An-Nisa’ : 32

5 QS. Al-Imron : 21 tentang asal kejadian laki-laki dan perempuan; QS. An-Nisa’ : 21 dalam konteks hubungan suami isteri; QS. At-Taubah : 71 dalam konteks kegiatan sosial; QS. Al-Baqarah : 187 tentang hubungan timbal balik / kemitraan antara suami isteri.

[12] Lihat KHA pasal 12 (1) dan penjelasan pasal 2 Undang Undang  Nomor 23  Tahun 2002. tentang Perlindungan Anak. 

[13] Lihat pasal  12, 13  KHA  dan Undang Undang  Nomor  23 Tahun  2002 tentan Perlindungan Anak.

 

Contact Us

  • Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel
  • Address: Jl. A. Yani 117 Surabaya
  • Tel: (031) 8437893
  • Fax: (031) 8437893
  • Email: ftk[at]uinsby.ac.id
  • Website: http://ftk.uinsby.ac.id

Term of Use

Semua Content yang ada di situs resmi FTK UIN Sunan Ampel - Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak dan didistribusikan untuk tujuan non-commercial.