Oleh : Sigit Pramono Jati, M.Pd

        Cerpen ini membuka cakrawala kita mengenai kehidupan wanita keturunan Cina dalam keluarga Cina yang kolot. Keluarganya mendambakan keturunan laki-laki dari rahimnya sebagai penerus marga. Namun, sang wanita dihadapkan pada ketidakmampuan dalam melahirkan anak laki-laki dan ia pun terus “dirperkosa”, dicumbu, dan diperlakukan seperti ayam petelor oleh keluarganya.

Penggunaan simbol-simbol yang luar biasa oleh sang penulis untuk menggambarkan sistem masyarakat patriarki, dominasi pria yang berujung pada kekerasan pada wanita serta simbol wanita ideal. Penulis (Lan Fang) mampu merangkum tiga hal kompleks di atas menjadi simbol-simbol dalam sebuah cerpen yang tampak sederhana.

 

Pendahuluan

 

            Sastra adalah sebuah karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik (Bagyo S, 1986: 7). Sastra “menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial (Wellek & Warren, 1990: 109). Berdasarkan pada statemen tersebut, bisa dikatakan bahwa semua karya sastra ialah suatu cerminan sistem masyarakat, sistem politik, sistem ekonomi, dan sebagainya.

 

Hegel dan Taine dalam Wellek & Warren (1990: 111) menyatakan bahwa karya sastra merupakan “dokumen karena merupakan monumen”. Hal ini disebabkan karena karya sastra dianggap mampu mewakili zaman serta kebenaran sosial. Karya sastra juga mampu menyampaikan kebenaran yang sekaligus juga merupakan kebenaran sejarah dan sosial.

 

Luxemburg (1991: 11) menyatakan bahwa teks mengatakan sesuatu tentang sebuah dunia yang nyata atau dunia yang mungkin ada. Pernyataan ini semakin memperkuat pernyataan-pernyataan di atas mengenai karya sastra yang memang mewakili dunia nyata manusia.

 

Suatu karya sastra juga dapat dipandang sebagai gejala sosial (Luxemburg, 1989: 23). Karya sastra yang ditulis pada kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu.

 

Sebagai salah satu karya sastra, Cerpen “Bayi Ketujuh” karya Lan Fang merupakan suatu karya yang mapu merefleksikan kehidupan nyata manusia, dimana di dalamnya beradu antara interaksi, pola pikir, prinsip, status sosial, norma-norma, adat istiadat, serta aspek-aspek yang lain. Dalam cerpen tersebut, Lan Fang mampu menggambarkan bagaimana reaksi keluarga sebagai perwujudan dari masyarakat skala kecil terhadap “ketidakmampuan” tokoh aku untuk melahirkan bayi laki-laki. Menyingkapi “ketidakmampuan” tokoh aku, pihak keluarga suami tokoh aku pun terus mencekokinya dengan berbagai ramuan serta dogma mengenai pentingnya anak laki-laki sebagai penerus marga dalam keluarga.

 

Sastra sebagai refleksi dunia nyata, tentu saja menggunakan simbol-simbol untuk menggambarkan dunia nyata itu sendiri. Simbol sendiri oleh Luxemburg (1999: 67) diartikan sebagai lambang, sesuatu yang berdasarkan perjanjian atau konvensi mengacu pada gagasan atau pengertian tertentu. Rambu-rambu lalu lintas dan kata dalam bahasa adalah contoh simbol yang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Sedangkan Warren dan Welleck (1990: 239) mengartikan simbol sebagai objek yang mengacu pada objek lain, tetapi jua menuntut perhatian pada dirinya sendiri sebagai suatu perwujudan. Simbol juga berarti puzzle dan detil yang penuh warna yang terletak di tengah-tengah perwujudan yang konkret serta memberikan isi dari cerita tersebut.

 

Dalam cerpen Bayi Ketujuh karya Lan Fang, terdapat simbol-simbol yang mewakili objek lain, dalam hal ini tentu saja simbol-simbol yang mewakili dunia riil. Simbol-simbol ini dibawakan dalam bahasa yang sederhana serta menarik sehingga pemakalah bermaksud untuk “menguliti” simbol-simbol yang digunakan oleh penulis (Lan Fang).

 

Pembahasan

 

Simbol

 

            Simbol, seperti yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya adalah objek yang mengacu pada objek lain, tetapi jua menuntut perhatian pada dirinya sendiri sebagai suatu perwujudan. Simbol juga berarti puzzle dan detil yang penuh warna yang terletak di tengah-tengah perwujudan yang konkret serta memberikan isi dari cerita tersebut.

 

            Hubungan simbol dan objek sebagai makna yang dimaksud dari sebuah simbol tidak selalu bersifat arbitrer dan harus bisa dikembalikan pada fakta atau sejarah tertentu (Luxemburg, 1991: 68). Seperti misalnya salib sebagai lambang Kristus dan agama Kristen, palu arit yang melambangkan komunisme, serta bulu burung yang mengacu pada kewartawanan.

 

            Sastrawan kerap menggunakan simbol karena mereka menginginkan pembaca merasa bahwa suatu karakter, tempat, musim, atau kejadian memiliki maksud yang beragam, mereka ada untuk sesuatu yang lebih dari pada mereka yang tampak pada teks. Sastrawan sering menekankan simbol dengan menjabarkannya agar pembaca mampu merasa keberadaan suatu unsur sebagai sebuah simbol. Terkadang mereka pun memasukkan unsur simbol tersebut pada saat-saat unsur simbol tersebut dirasa kurang penting serta memberikan perhatian yang berulang-ulang pada unsur simbol tersebut.

 

            Seperti halnya Luxemburg (1991: 68) yang mengapresiasikan simbol semut dan Laura yang tergilas sebagai simbol terkungkungnya manusia dalam suatu keadaan yang tidak bisa dihindarinya.

 

Bayi Ketujuh

 

            Cerpen ini merupakan salah satu karya Lan fang, penulis kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970, seorang penyandang gelar Sarjana Hukum, serta penulis yang telah berhasil menelurkan enam buah buku; Reinkarnasi, Pai Yin, Kembang Gunung Purei, Laki-laki yang Salah, Perempuan Kembang Jepun, serta Yang Liu.

 

            Cerpen ini bertemakan mengenai penindasan seorang wanita. Wanita tersebut terus diperlakukan sebagai “ayam betina petelur” karena tidak mampu memberi keturunan laki-laki untuk keluarga mertuanya. Ia dipaksa melahirkan sampai 7 kali karena belum lahirnya keturunan laki-laki dari rahimnya.

 

            Lan Fang, sebagai penulis membawakan cerpe ini mengunakan alur maju-mundur. Sang penulis pertama-tama membawakan cerpen ini tidak secara kronologis, melainkan melompat-lompat, maju ke masa depan, setelah itu mundur ke belakang, lalu menutup cerita ini dengan meloncat lebih ke depan lagi.

 

            Terdapat dua setting utama dalam cerpen ini. Setting yang pertama ialah kamar rawat inap seorang pasien operasi caesar yang telah melahirkan anak perempuannya yang ketujuh. Setting yang kedua ialah keluarga pasien tersebut yang didalamnya “memperkosanya” untuk tetap melahirkan selama belum terlahirnya anak laki-laki.

 

            Dalam cerpen ini terdapat tiga tokoh utama; aku, suami, dan mertua perempuan. Aku ialah seorang istri dari seorang laki-laki dari keluarga terpandang. Ia diharapkan mampu memberikan keturunan laki-laki namun ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ia telah melahirkan 7 kali dan semuanya perempuan. Sedangkan suami iala lelaki terpelajar penyandang gelar sarjana komputer dan bisnis keuangan dari Amerika. Namun keterpelajarannya seakan dibutakan dan diirasionalkan oleh pikiran-pikiran kolot mengenai keturunan laki-laki dan hal ini membuatnya seakan menindas tokoh aku. Sedangkan mertua perempuan ialah wanita dari keluarga terpandang dan kolot.

 

 

 

Simbol dalam Cerpen bayi Ketujuh

 

Seperti apresiasi Luxemburg pada subbab simbol, secara umum cerpen Bayi Ketujuh ini menyimbolkan terkungkungnya manusia (tokoh aku) dalam suatu keadaan yang tidak bisa dihindarinya.   Akuterperangkap dalam masalah dominasi pria terhadap wanita, kekerasan terhadap perempuan, simbol wanita, sistem masyarakat patriarki.

 

Dan point kemenangan itu adalah aku dilahirkan pada hari, bulan, tahun, waktu yang bagus. Berdasarkan feng shui , shio ku cocok dengan shio suamiku. Setelah semua aspek dihitung oleh calon mertua perempuanku, diantara semua gadis yang dicalonkan, akulah yang akan membawa nasib keberuntungan, harmonis, umur panjang dan banyak anak...

 

Banyak anak... banyak anak...banyak anak... (halaman 169)

 

"Tetapi belum ada cucu laki-laki," begitu jawabnya tenang seakan-akan aku adalah cetakan puding agar-agar jelly. Di mana ia mengaduk sebungkus agar-agar jelly dengan gula pasir dijerang di dalam panci, lalu setelah mendidih ia menuangkan ke dalam cetakan plastik yang berbentuk aneka rupa. (halaman 171)

 

"Kamu menantu tertua di keluarga ini. Coba lihat, ipar-ipar perempuanmu semua sudah memberikan cucu laki-laki. Masa kamu tidak bisa? Padahal hokky mu bagus. Kamu harus mempunyai anak laki-laki yang meneruskan warisan perusahaan dan menyambung marga," begitu mertuaku bersikeras dengan nada menyalahkan. (halaman 172)

 

"Banyak anak itu banyak rezeki. Apalagi kalau banyak anak laki-laki. Sepertinya kali ini kamu mengandung anak laki-laki," kata shinhe yang memberikan obat penyubur. Mama juga sudah bertanya kepada suhu yang menghitung feng shui, berdasarkan perhitungannya, kali ini adalah anak laki-laki. (halaman 173)

 

            Potongan-potongan cerita di atas merupakan simbol mengenai pola pikir masyarakat yang patriarki dan cenderung konvensional. Aku dalam cerpen Bayi Ketujuh menyimbolkan masyarakat keturunan Cina yang mengagungkan anak laki-laki hingga bisa dikatakan keluarga aku mengabaikan keenam anak perempuan yang telah dilahuirkan aku. Keluarga tersebut terus dan terus menindas aku untuk terus hamil dan melahirkan demimendapat keturunan laki-laki.

 

            Sistem masyarakat yang patriarki tersebut mengarah pada dominasi pria terhadap wanitayang disimbolkan dalam cerpen ini. Pendominasian yang sewenang-wenang ini menimbulkan kekerasan pada perempuan, baik verbal maupun seksual yang disibolkan pada potongan cerita di bawah ini;

 

Lalu apakah aku harus mengatakan kepadanya bahwa secara teori kedokteran, jenis kelamin bayi ditentukan dari khromosom Y yang dibawa spermatozoa anak laki-lakinya pada saat pembuahan? Bukankah sel telur ovum perempuan hanya mengandung khromosom XX? Jadi bukan kesalahanku kalau aku terus menerus melahirkan anak perempuan. Walau pun aku bukan mahasiswa kedokteran dan kebanyakan nilai ujianku hanya standar C saja, tetapi aku tidak terlalu bodoh untuk mengingat pelajaran biologi.

 

"Lebih baik kita ke dokter saja," begitu kataku kepada suamiku. "Kita menjalani proses inseminasi saja, kalau perlu bayi tabung sekalian. Pilih semua khromosom Y dari spermatozoa-mu, agar semua menjadi bayi laki-laki."

 

Aku sudah tidak tahan lagi menjadi cetakan puding agar-agar jelly. Seharusnya suamiku yang lulusan luar negeri itu bisa menerima pendapatku. Setidaknya ia bisa membelaku di hadapan mamanya bila aku yang disalahkan karena terus menerus melahirkan anak perempuan.

 

"Ke dokter?! Hanya untuk membuat bayi laki-laki saja kita harus ke dokter?! Lalu orang tuaku dan saudara-saudaraku semua akan tahu bahwa aku yang tidak mampu memberi bayi laki-laki! Begitu?! Gimana sih kamu? Yang benar saja. Itu akan mempermalukan aku, tahu?!" suamiku malah mengomel panjang lebar kepadaku. (halaman 172)

 

            Lalu ketika suamiku mencumbuku untuk calon bayi laki-laki lagi, kusuruh ia memadamkan lampu. Bukan karena aku merasa minder dengan bentuk tubuhku yang sudah mengalami permak berkali-kali. Tetapi karena aku merasa ini bukan kegiatan bercinta lagi yang membutuhkan sarana untuk saling memandang pancaran ekspresi dari pasangannya. Ini hanya sekadar aktivitas pembibitan seperti ayam betina petelor, seperti oven kue bolu, atau seperti injection moulding machine di pabrik plastik yang menghasilkan gayung yang sudah diproses melalui moulding dari biji-biji plastik. (halaman 173)

 

            Potongan cerita halaman 172 di atas menyimbolkan dominasi pria terhadap wanita yang mengarah pada kekerasan verbal. Bagaimana argumentasi yang rasional dari seorang wanita (aku) dipatahkan hanya dengan kearogansian, gengsi laki-laki, serta sifatnya yang mendominasi karena penerapan sistem masyarakat patriarki.

 

            Sedangkan pada halama 173 menyimbolkan dominasi pria yang mengarah pada kekerasan seksual. Suami seakan-akan memperkosa aku dalam kegiatan bercinta yang seharusnya sebagai pancaran ekspresi pasangan. Aku pun merasa tidak merasa dimanusiakan karena ia merasa kegiatan bercinta tersebut hanyalah aktivitas pembibitan seperti ayam betina petelor meskipun aku ialah wanita yang seharusnya mendapat perlakuan lebih manusiawi.

 

            Sosok wanita ideal pun disimbolkan oleh sang penulis.

 

Seperti yang sudah-sudah, sehabis masa empat puluh hari bersalinku, aku akan menghabiskan banyak waktuku di salon untuk menjalani program perampingan dan pembentukan tubuh lagi. Lemak-lemak di seputar lengan, paha, punggung dan perut akan disedot. Payudara akan dibentuk agar kencang kembali. Aku akan menjalani diet ketat. Juga senam aerobic untuk mengencangkan otot-otot yang kendor.

 

Lalu...simsalabim!

 

Tubuhku kembali seperti patung pahatan seniman Bali. Kembali menjadi tubuh sempurna yang memamerkan kemolekan perut rata dan dada kencang. (halaman 170)

 

Dua paragraf di atas memberikan gambaran mengenai sosok wanita ideal yang tertanam pada otak masyarakat. Sang penulis menyimbolkan sosok wanita ideal sebagai sosok dengan tubuh sempurna dengan perut rata dan dada kencang, bukan sebagai wanita paska melahirkan dengan lemak dimana-mana, otot-otot kendor dan perut yang menggelambir.

 

            Jika ditilik secara keseluruhan, cerpen ini melambangkan pola pikir masyarakat keturunan Cina yang mengagung-agungkan anak laki-laki dan berpegang teguh pada kepercayaan tradisional. Pengagungan anak laki-laki masyarakat keturunan Cina dalam cerpen ini sampai mengesampingkan keberadaan 6 anak perempuan, hak, serta perasaan aku sebagai ibu dan wanita.

 

Konon di negara Cina, sebagai negara dengan penduduk terbesar di dunia, mereka menerapkan kebijakan satu anak di setiap keluarga. Tapi karena pengagungan anak laki-laki, kebijakan ini dianulir jika anak pertama ialah perempuan dan keluarga tersebut diijinkan untuk memiliki seorang anak lagi. Kebijakan ini memberikan dampak yang cukup mengherankan. Diperkirakan di masa yang akan datang, Negara tersebut akan kelebihan pria dan kekurangan wanita, sehingga muncul pameo bahwa kemungkinan menjadi homo lebih besar di negara tersebut.

 

Kepercayaan tradisional telah mengakar kuat pada masyarakat keturunan Cina sehingga dalam cerpen Bayi Ketujuh terdapat banyak simbol yang mengacu pada pengambilan keputusan yang irasional berdasarkan kepercayaan; shio, feng shui, dan lain-lain.

 

Selain itu sistem masyarakat patriarki yang disimbolkan dalam cerpen ini menimbulkan dominasi laki-laki terhadap wanita yang berujung pada penindasan wanita dengan adanya kekerasan, baik verbal maupun seksual.

Contact Us

  • Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel
  • Address: Jl. A. Yani 117 Surabaya
  • Tel: (031) 8437893
  • Fax: (031) 8437893
  • Email: ftk[at]uinsby.ac.id
  • Website: http://ftk.uinsby.ac.id

Term of Use

Semua Content yang ada di situs resmi FTK UIN Sunan Ampel - Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak dan didistribusikan untuk tujuan non-commercial.